Bandung — Isu kesehatan mental siswa kembali menjadi sorotan setelah muncul data yang menyebutkan sekitar 10.000 kasus terkait persoalan psikologis anak dan remaja di Kota Bandung. Namun para pemerhati pendidikan dan psikolog menegaskan, angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan sinyal keras tentang tekanan yang dihadapi siswa di sekolah maupun di rumah.
Di balik angka itu, tersimpan berbagai persoalan yang kompleks: tekanan tugas akademik, ekspektasi tinggi orang tua, pola asuh yang kurang adaptif, hingga minimnya ruang dialog yang aman bagi anak untuk menyampaikan perasaan dan beban yang mereka rasakan.
Tekanan Akademik dan Beban Sosial
Banyak siswa menghadapi tuntutan akademik yang semakin kompetitif. Target nilai tinggi, persiapan ujian, hingga persaingan masuk sekolah atau perguruan tinggi favorit sering kali menjadi sumber stres berkepanjangan.
Di sisi lain, dinamika sosial seperti perundungan (bullying), tekanan pergaulan, serta paparan media sosial turut memperbesar beban psikologis. Tidak sedikit siswa yang merasa harus selalu tampil sempurna, baik secara akademik maupun sosial.
Pola Asuh dan Minimnya Ruang Dialog
Psikolog pendidikan menilai bahwa pola komunikasi di rumah juga berpengaruh besar terhadap kondisi mental anak. Ketika ruang dialog sempit dan anak merasa tidak didengar, mereka cenderung memilih diam.
Padahal, diamnya siswa sering kali bukan tanda bahwa mereka baik-baik saja. Justru di balik keheningan itu, ada pesan yang tidak tersampaikan—rasa cemas, takut gagal, hingga perasaan tidak dihargai.
“Ketika siswa diam, itu bisa menjadi tanda bahwa mereka tidak menemukan ruang aman untuk berbicara,” ujar seorang pemerhati pendidikan di Bandung.
Sekolah Perlu Lebih Responsif
Sekolah dinilai perlu memperkuat layanan bimbingan dan konseling serta menciptakan budaya belajar yang lebih suportif. Pendidikan tidak hanya soal capaian nilai, tetapi juga kesejahteraan emosional siswa.
Program penguatan karakter, pelatihan guru dalam mendeteksi tanda-tanda gangguan psikologis, serta penyediaan jalur pelaporan yang aman menjadi langkah penting untuk mencegah masalah berkembang lebih serius.
Selain itu, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan tenaga profesional seperti psikolog atau konselor menjadi kunci dalam membangun sistem dukungan yang komprehensif.
Dari Angka ke Tindakan Nyata
Angka 10.000 kasus seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Kesehatan mental siswa bukan isu sampingan, melainkan fondasi bagi keberhasilan pendidikan.
Para pakar menekankan bahwa pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar reaktif saat kasus mencuat, tetapi preventif dan berkelanjutan. Membangun lingkungan belajar yang aman, terbuka, dan empatik akan membantu siswa merasa dihargai dan didengar.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi tentang memastikan setiap anak tumbuh dengan sehat—secara fisik maupun mental. Ketika siswa memilih diam, mungkin ada pesan penting yang selama ini terlewatkan.

































