Tes Kompetensi Akademik (TKA) dirancang untuk memetakan kemampuan siswa sebelum melangkah ke jenjang berikutnya, tetapi di lapangan kondisinya belum seideal itu. Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amalia, mengungkapkan bahwa masih banyak siswa yang kurang antusias bahkan menolak mengikuti TKA ketika ia melakukan peninjauan langsung di sejumlah sekolah.
Dalam forum “Urun Rembuk: Masa Depan Perguruan Tinggi Swasta Indonesia” di Universitas Paramadina, Ledia menceritakan bahwa sebagian siswa sebenarnya mampu, namun bingung menentukan jurusan dan tidak memiliki motivasi kuat untuk kuliah. Ada yang memilih jurusan sekadarnya, seperti “yang penting gampang”, dan ada juga yang secara jujur mengatakan lebih ingin segera bekerja ketimbang melanjutkan pendidikan tinggi. Kondisi ini berujung pada penolakan ikut TKA, meski pihak sekolah sudah berupaya membujuk.
Ia mencontohkan satu sekolah dengan sekitar 70 siswa yang tetap tidak mau ikut TKA, berbeda dengan sekolah lain yang kepala sekolahnya lebih gigih membujuk hingga jumlah yang tidak ikut tinggal tiga orang. Fakta ini menunjukkan betapa besar pengaruh pendekatan sekolah dan kepemimpinan dalam mendorong partisipasi siswa. Namun, di balik itu semua, Ledia menilai masalah utamanya adalah masih banyak siswa yang belum memahami makna asesmen sebagai alat memetakan kemampuan, bukan sekadar ujian tambahan yang membebani.
Menurut Ledia, situasi ini harus menjadi alarm bagi pemerintah dan satuan pendidikan. Pembelajaran mendalam yang dicanangkan pemerintah sebenarnya sudah mulai diarahkan, tetapi implementasinya di kelas masih perlu banyak perbaikan. Guru perlu lebih terlatih dalam mengaitkan asesmen dengan masa depan siswa, bukan hanya sebagai prosedur formal. Jika asesmen dipahami sebagai bagian dari upaya membantu siswa mengenali potensi diri, bukan sekadar tes yang menakutkan, maka TKA berpeluang lebih diterima dan dimaknai sebagai investasi, bukan beban.









































