Belajar tidak melulu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Sebanyak 280 siswa SMAN 1 Samigaluh mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis pengalaman dengan “turun ke sawah” menanam padi dan bibit cabai bersama warga di Desa Wisata (Deswita) Widosari. Tak hanya itu, para siswa juga menjalani program live in dengan tinggal langsung di rumah penduduk setempat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran kurikuler yang dipadukan dengan penguatan kearifan lokal. Para siswa diajak mengenal proses pertanian secara langsung, mulai dari pengolahan lahan, penanaman padi, hingga menanam bibit cabai, sekaligus belajar tentang nilai-nilai kerja keras, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Selain praktik pertanian, program live in menjadi pengalaman berharga bagi siswa. Selama tinggal bersama keluarga angkat, mereka belajar beradaptasi dengan kehidupan desa, mengikuti aktivitas harian warga, serta memahami budaya dan tradisi lokal yang masih lestari.
Guru pendamping menjelaskan, pembelajaran di luar kelas ini dirancang untuk memperkaya pemahaman siswa secara kontekstual. Materi yang dipelajari di sekolah dipertemukan langsung dengan realitas kehidupan masyarakat, sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman nyata.
“Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran karakter. Anak-anak belajar mandiri, bertanggung jawab, bekerja sama, serta menghargai jerih payah petani dan masyarakat desa,” ujar salah satu pendamping kegiatan.
Warga Desa Wisata Widosari menyambut baik kehadiran para siswa. Selain menjadi ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara dunia pendidikan dan masyarakat.
Melalui pembelajaran berbasis pengalaman ini, diharapkan siswa tidak hanya bertambah ilmunya, tetapi juga berkembang soft skill-nya, seperti komunikasi, empati, dan kemampuan bersosialisasi. Belajar pun menjadi lebih bermakna karena berlangsung langsung dari kehidupan nyata.




































