Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen) Fajar Riza Ul Haq membedah sederet tantangan fundamental yang masih membayangi dunia pendidikan Indonesia. Dia menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak bisa dilakukan secara instan atau parsial, melainkan harus menyentuh akar permasalahan dari hulu hingga hilir.
“Mulai dari kualitas tenaga pendidik, infrastruktur yang usang, kesenjangan digital, hingga masalah kesehatan dasar peserta didik menjadi PR (pekerjaan rumah) besar yang sedang diakselerasi penyelesaiannya oleh kementerian,” ujar Fajar dalam kunjungannya di Gedung Budi Sasono, Sukoharjo, Kamis kemarin (15/1)
Pemerintah menempatkan pembenahan sarana fisik sebagai prioritas utama pada 2026. Target penerima bantuan revitalisasi fasilitas pendidikan melonjak signifikan hingga menyasar hampir 60 ribu sekolah.
Tak hanya fisik bangunan, senjata pembelajaran digital juga diperkuat dengan distribusi 288 ribu unit papan interaktif digital (interactive flat panel/IFP) ke berbagai pelosok negeri. Langkah ini diambil untuk mengejar ketertinggalan literasi dasar dan numerasi anak-anak Indonesia yang masih rendah menurut standar global (PISA).
“Ini bukan sekadar soal teknologi, tapi upaya agar anak-anak kita tidak mengalami kesenjangan literasi digital. Kami juga mendorong mata pelajaran coding dan AI, bukan untuk mencetak programmer sejak dini, tapi untuk mengajarkan hakikat dan tanggung jawab penggunaan teknologi,” ujar Fajar.




































