Dunia pendidikan kembali diguncang insiden kekerasan di lingkungan sekolah. Seorang guru SMK di Provinsi Jambi mengaku dikeroyok oleh sejumlah siswanya setelah terjadi konflik di dalam kelas yang berujung tamparan dan kericuhan. Peristiwa tersebut terekam dan menyebar luas di media sosial hingga menjadi viral.
Insiden bermula dari ketegangan saat proses belajar mengajar berlangsung. Menurut keterangan yang beredar, terjadi adu mulut antara guru dan siswa yang dipicu oleh ucapan “kurang mampu” yang disampaikan guru kepada siswa. Ucapan tersebut kemudian diperdebatkan dan ditafsirkan berbeda oleh berbagai pihak, hingga memicu emosi dan eskalasi konflik.
Situasi di kelas semakin tidak terkendali ketika keributan berlanjut di luar ruang belajar. Guru tersebut mengaku mendapat perlakuan fisik dari beberapa siswa, sementara suasana sekolah menjadi ricuh dan menyita perhatian warga sekitar.
Upaya mediasi antara pihak guru, siswa, dan orang tua telah dilakukan. Namun, proses penyelesaian secara kekeluargaan dilaporkan tidak mencapai kata sepakat. Perbedaan pandangan mengenai kronologi kejadian dan tanggung jawab masing-masing pihak membuat mediasi menemui jalan buntu.
Akibatnya, kasus ini kini dibawa ke Dinas Pendidikan (Disdik) setempat untuk ditangani lebih lanjut. Disdik menyatakan akan mempelajari kasus tersebut secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek perlindungan guru, hak siswa, serta ketentuan disiplin dan etika pendidikan.
Peristiwa ini memicu keprihatinan luas di tengah masyarakat. Di satu sisi, guru dituntut menjaga tutur kata dan pendekatan pedagogis yang bijak. Di sisi lain, tindakan kekerasan oleh siswa terhadap guru dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap nilai-nilai pendidikan dan penghormatan terhadap pendidik.
Kasus ini pun memunculkan pertanyaan mendasar tentang relasi guru dan siswa di ruang kelas, peran pendidikan karakter, serta efektivitas sistem pembinaan di sekolah. Di titik ini, publik pun bertanya: siapa sebenarnya yang gagal dididik?
































