Pensiun setelah 20 tahun mengajar tidak membuat Nur Ali, seorang pendidik di Kabupaten Tapanuli Selatan, berhenti mengabdi pada dunia pendidikan. Sebaliknya, ia justru menunjukkan bentuk pengabdian yang lebih luas dengan menghibahkan lahan seluas 7.500 meter persegi miliknya untuk pembangunan madrasah di wilayah yang juga kerap terdampak banjir.
Keputusan Nur Ali tersebut dilatarbelakangi kepeduliannya terhadap keterbatasan akses pendidikan, khususnya pendidikan keagamaan, di daerahnya. Ia menilai keberadaan madrasah sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar, terlebih di kawasan yang sering mengalami bencana banjir sehingga memerlukan fasilitas pendidikan yang lebih layak dan aman.
“Selama mengajar saya melihat betul bagaimana pendidikan bisa mengubah hidup seseorang. Meski sudah pensiun, saya ingin tetap berkontribusi,” ujar Nur Ali.
Lahan yang dihibahkan tersebut rencananya akan dimanfaatkan untuk pembangunan madrasah yang dapat menampung anak-anak dari berbagai latar belakang keluarga. Selain sebagai pusat pembelajaran, madrasah ini juga diharapkan menjadi ruang aman bagi anak-anak di wilayah rawan banjir.
Langkah Nur Ali mendapat apresiasi dari masyarakat dan tokoh setempat. Mereka menilai pengorbanan tersebut sebagai wujud nyata kepedulian dan cinta seorang guru terhadap masa depan generasi muda.
Kisah Nur Ali menjadi pengingat bahwa cinta pada pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tidak pula berakhir saat masa tugas selesai. Pengabdian seorang guru dapat terus hidup melalui tindakan nyata yang membawa manfaat luas bagi masyarakat.
































