Sekolah dasar di Babelan, Kabupaten Bekasi, menghadapi tantangan berlapis di tengah musim hujan. SDN Hurip Jaya 02 terpaksa menutup sementara kegiatan tatap muka karena bangunan sekolah terendam banjir selama beberapa hari. Sebagai solusi sementara, proses belajar mengajar dialihkan ke model pembelajaran jarak jauh.
Namun, kebijakan ini tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Banyak murid dari kelas 1 hingga 6 ternyata tidak memiliki telepon seluler sendiri atau tidak bisa menggunakan gawai di rumah karena lingkungan tempat tinggal mereka juga ikut tergenang. Akibatnya, tidak semua siswa dapat mengikuti tugas dan materi yang dibagikan secara online.
Di sisi lain, para guru tetap diwajibkan datang ke sekolah setiap hari untuk melakukan absensi, memantau kondisi, sekaligus memastikan jika ada siswa yang datang langsung ke sekolah untuk mengambil tugas atau mencari informasi. Guru menyebut pembelajaran daring terasa kurang efektif bagi siswa sekolah dasar yang masih sangat membutuhkan bimbingan langsung.
Pihak sekolah belum bisa memastikan kapan kegiatan belajar tatap muka bisa dimulai kembali, karena akses menuju sekolah masih terhambat genangan air dan situasi masih bergantung pada kondisi cuaca. Situasi ini menjadi pengingat bahwa banjir bukan hanya mengganggu aktivitas fisik, tetapi juga berpotensi memperlebar ketimpangan akses pendidikan, terutama bagi anak-anak yang tidak memiliki perangkat digital memadai.
































