Tinggal di Kelurahan Pandansari, Kecamatan Sruweng, Kebumen, Suripto harus menempuh jarak 55 kilometer hanya untuk mencapai gerbang sekolah.
Jika dihitung pulang-pergi, ia melahap jarak fantastis 110 kilometer setiap hari kerja. Rutinitas “gila” ini telah ia jalani dengan setia selama enam tahun terakhir, sejak tahun 2019. Persiapan dimulai sejak pukul 04.00 WIB dini hari. Pukul 05.00 WIB, motornya sudah mulai mengaspal dari Kebumen, melewati Purworejo, hingga sampai di perhentian akhirnya di Kulon Progo. Waktu tempuh dua jam adalah harga mutlak yang harus dibayar demi tiba tepat waktu.
Perjalanan panjang lintas kabupaten ini bukan tanpa risiko.
Tantangan terbesar bagi Suripto bukanlah jarak, melainkan rasa kantuk yang mematikan, mengingat ia harus bangun sangat pagi buta setiap hari. Jalanan Purworejo pernah menjadi saksi ketika ia mengalami kecelakaan tunggal akibat kuasa menahan kantuk. Beruntung, ia hanya mengalami luka ringan. Tak hanya fisik, kendaraannya pun kerap diuji. Suripto pernah harus mendorong motor sejauh satu kilometer saat mengalami pecah ban di jalur selatan yang sepi dan minim bengkel.
Belajar dari situ, kini ia lebih waspada dengan menggunakan ban tubeless. Saat musim hujan tiba, tantangan kian berat. Dibalut jas hujan, ia harus tetap melaju menembus dingin, sembari ekstra hati-hati menghindari lubang jalan yang tertutup genangan air.
Meski didera lelah fisik yang luar biasa, semangat Suripto tak pernah surut.
Baginya, senyum para siswa adalah penawar lelah yang paling ampuh.
“Semangat saya dari awal memilih SD ini demi anak-anak. Meskipun perjalanan lelah, ketika melihat anak-anak dan mereka bahagia, saya sudah senang,” ujarnya tulus.
Di mata rekan sejawat, sosok Suripto dikenal memiliki etos kerja tinggi. Kepala SDN 1 Pripih, Mujasih, mengungkap bahwa Suripto adalah sosok guru kelas V yang multitalenta. Meski jarak rumahnya paling jauh, Suripto tetap disiplin mematuhi jam kerja, pulang pukul 15.00 WIB, dan mengerjakan segala tugas dengan baik.



























