Kepedulian terhadap lingkungan mendorong Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMP Negeri 57 Surabaya, berinovasi mengolah limbah kulit bawang putih menjadi berbagai produk ramah lingkungan bernilai ekonomi. Proyek tersebut, bermula dari keikutsertaannya dalam ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup tingkat SMP yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, mewakili sekolahnya.
.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menyatakan bahwa inovasi yang dilakukan Raihan sejalan dengan upaya Dispendik dalam membangun pola pikir kreatif dan inovatif peserta didik sejak usia dini.
.
“Ini merupakan bagian dari upaya kami mengedukasi anak-anak didik agar kepekaan dan daya pikir kreatifnya terus terasah. Kami juga membuka ruang kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya untuk mendukung pengembangan inovasi pelajar agar berkelanjutan, Senin (19/1/2026).
.
Sementara itu, Raihan Jouzu Syamsudin mengungkapkan bahwa proyek pemanfaatan limbah kulit bawang putih bermula dari ketertarikannya saat mengikuti ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup. “Dari situ saya tertarik mengolah limbah kulit bawang putih yang selama ini dianggap tidak bernilai,” ujar Raihan.
.
Pada tahap awal, Raihan memfokuskan pengolahan limbah tersebut menjadi tinta spidol ramah lingkungan. Seiring waktu, jumlah kulit bawang putih yang berhasil ia kumpulkan terus bertambah hingga mencapai sekitar 3,12 ton. Kondisi itu mendorongnya mengembangkan inovasi lanjutan berupa eco enzyme dan sabun cair.
.
Raihan, juga memanfaatkan kulit bawang putih yang lembab atau berjamur akibat hujan untuk diolah menjadi eco enzyme guna mengembangkan produk ketiga berupa sabun cair yang dirancang lebih ramah lingkungan.
.
Raihan juga memperoleh tambahan uang saku dari usahanya tersebut. Saat ini, tinta spidol berukuran 30 mililiter dijual seharga Rp15.000 per botol, sedangkan sabun cair ukuran 250 mililiter dipasarkan dengan harga Rp10.000 per botol.




























