Lulusan penyandang disabilitas masih kerap menghadapi tantangan dalam memasuki dunia kerja. Meski berbagai regulasi yang menjamin hak kerja bagi penyandang disabilitas telah tersedia, pada praktiknya banyak lulusan yang belum berdaya dan belum terserap secara optimal oleh dunia usaha dan industri.
Sekretaris Dinas Pendidikan (Sekdisdik) Provinsi Jawa Barat, Deden Saepul Hidayat, menegaskan bahwa permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Menurutnya, kunci utama terletak pada kolaborasi nyata antara pemerintah, satuan pendidikan, serta dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
“Regulasi sudah ada, namun implementasi di lapangan membutuhkan sinergi yang kuat. Pemerintah, sekolah, dan dunia industri harus berjalan bersama agar lulusan penyandang disabilitas benar-benar memiliki akses kerja yang setara,” ujar Deden.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah forum yang membahas perluasan akses kerja inklusif bagi lulusan penyandang disabilitas. Forum ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Rudi Susilana.
Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) serta pelaku dunia industri. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja, sekaligus membuka peluang kerja yang lebih inklusif.
Melalui forum ini, Disdik Jawa Barat berharap terbangun komitmen bersama untuk menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang ramah disabilitas, sehingga lulusan penyandang disabilitas tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga kesempatan nyata untuk mandiri dan berdaya di dunia kerja.



































