Pemanfaatan AI di sekolah masih jadi PR besar, terutama untuk guru di daerah yang berhadapan dengan keterbatasan perangkat, sinyal, dan pelatihan yang berkelanjutan. FSGI menegaskan, tanpa workshop dan pendampingan rutin, program AI berisiko hanya dinikmati sekolah yang sudah siap, sementara NTB, NTT, Papua dan daerah terpencil lain makin tertinggal dari sisi kualitas pembelajaran. Di sisi lain, AI sebenarnya bisa meringankan kerja guru dalam hal administrasi dan menyediakan materi belajar yang lebih adaptif, asalkan ada standarisasi pemanfaatan dan kebijakan yang jelas di tingkat sekolah maupun daerah. Namun, AI tetap hanya alat; pendidikan tetap membutuhkan guru sebagai figur yang menghidupkan kelas, memberi teladan, dan membimbing siswa agar tidak terjebak budaya “instan tugas” ketika memakai AI.
Karena itu, pemerataan akses teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan kapasitas guru: mulai dari pelatihan dasar literasi digital, contoh praktik mengintegrasikan AI di RPP, hingga pendampingan dalam menjaga aspek karakter dan nilai di kelas. Jika ini tidak diantisipasi, era AI bukan hanya menghadirkan kesenjangan digital, tetapi juga kesenjangan kualitas karakter dan soft skill antar siswa di kota dan daerah.


































