Jakarta — Perdebatan soal penggunaan telepon genggam (HP) di sekolah kembali mengemuka. Namun, sejumlah pemerhati pendidikan menilai persoalan utama bukan pada pelarangan total gawai di lingkungan sekolah, melainkan bagaimana penggunaannya diatur secara bijak agar proses belajar tetap fokus dan kesehatan mental warga sekolah tetap terjaga.
Di tengah kemajuan teknologi digital, gawai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi peserta didik. Oleh karena itu, pendekatan pelarangan menyeluruh dinilai kurang relevan dan berpotensi menimbulkan konflik baru, baik di kelas maupun di rumah.
Para pendidik menekankan bahwa aturan yang jelas dan konsisten menjadi kunci utama dalam pengelolaan gawai di sekolah. Aturan tersebut perlu menjelaskan kapan gawai boleh digunakan untuk mendukung pembelajaran dan kapan harus disimpan agar tidak mengganggu konsentrasi siswa.
Selain regulasi, komunikasi yang hangat dan terbuka antara guru dan siswa juga menjadi faktor penting. Siswa perlu memahami alasan di balik pembatasan penggunaan gawai, bukan sekadar menerima larangan. Dengan demikian, aturan tidak dipersepsikan sebagai hukuman, melainkan sebagai kesepakatan bersama demi kenyamanan belajar.
Keterlibatan orang tua juga dinilai krusial. Sinkronisasi aturan antara sekolah dan rumah dapat membantu membentuk kebiasaan digital yang sehat bagi anak. Tanpa dukungan orang tua, kebijakan sekolah kerap sulit diterapkan secara efektif.
Lebih jauh, pelibatan siswa sejak awal dalam penyusunan aturan penggunaan gawai disebut mampu meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepatuhan. Dengan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, siswa belajar memahami batasan sekaligus mengelola penggunaan teknologi secara mandiri dan beretika.
Pendekatan kolaboratif antara siswa, orang tua, dan guru ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, tanpa mengabaikan realitas perkembangan teknologi. Dengan pengaturan yang tepat, gawai tidak menjadi sumber distraksi, melainkan alat pendukung pembelajaran yang bermanfaat.
Isu penggunaan HP di sekolah pun akhirnya bergeser dari soal larangan semata, menuju upaya membangun budaya digital yang sehat, fokus belajar yang terjaga, dan iklim sekolah yang tetap manusiawi serta berpihak pada kebutuhan peserta didik.






































