Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyampaikan keprihatinan tajam soal kemampuan dasar para guru di Indonesia. Ia menyebut masih banyak guru yang kompetensi bahasa Indonesianya belum memenuhi standar, padahal bahasa Indonesia adalah bahasa pengantar utama di sekolah.
Dalam penutupan Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 yang disiarkan di YouTube Kemendikdasmen, Atip menyoroti hasil Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI) yang digelar secara mandiri di Kabupaten Garut. Dari tes itu, terungkap guru dengan kemampuan bahasa Indonesia kategori unggul jumlahnya diperkirakan masih di bawah 20 persen. Mayoritas guru justru berada di level sedang atau “semenjana”, yang oleh Atip sampai diibaratkan seperti judul lagu dangdut “sedang-sedang saja”.
Atip mengingatkan, kondisi ini sangat mengkhawatirkan jika dikaitkan dengan peran guru sebagai pengampu pembelajaran di kelas. “Bayangkan, bahasa Indonesia itu bahasa pengantar, tapi guru yang unggul kompetensinya di bawah 20 persen,” ujarnya. Ia menekankan bahwa kualitas kompetensi guru akan berpengaruh langsung pada kemampuan dan hasil belajar siswa.
Tak hanya pada bahasa Indonesia, Atip juga menyinggung lemahnya kompetensi guru di mata pelajaran lain, termasuk matematika. Ia mencontohkan pernah ada guru matematika yang diminta menyelesaikan satu soal, namun tidak mampu memberikan jawaban. Menurutnya, situasi ini harus menjadi pekerjaan rumah bersama untuk benar-benar memperkuat kompetensi dasar guru di berbagai bidang.
Atip berharap rangkaian Konsolidasi Nasional 2026 tidak berhenti hanya sebagai acara, tetapi diikuti langkah nyata menyelesaikan persoalan guru, mulai dari peningkatan kemampuan hingga kesejahteraan, termasuk guru honorer. Ia menegaskan pentingnya menempatkan kompetensi dan kesejahteraan sebagai prioritas. “Kompetensi is the first, prosperity is the first,” ucapnya, sembari berharap tahun depan isu mengenai masalah-masalah guru tidak lagi mendominasi pembahasan.

































