Peran guru matematika di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kini tak lagi sekadar “pengajar rumus”. Di tengah percepatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), guru matematika dituntut menjadi arsitek masa depan lulusan yang adaptif, bernalar kritis, dan siap terjun ke Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
Melalui pelatihan intensif selama 50 jam pelajaran (JP), para guru didorong untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual, aplikatif, dan selaras dengan kebutuhan industri. Pendekatan ini menggeser pola lama yang berfokus pada hafalan menuju pembelajaran berbasis pemecahan masalah (problem solving) dan penguatan nalar logis.
Pelatihan tersebut menekankan pentingnya integrasi matematika dengan kompetensi keahlian di SMK, seperti teknik, akuntansi, teknologi informasi, hingga bisnis dan manajemen. Dengan demikian, siswa tidak lagi memandang matematika sebagai mata pelajaran abstrak, melainkan sebagai alat analisis yang relevan dengan bidang kerja yang akan mereka tekuni.
Di era AI, kemampuan membaca data, memahami pola, serta berpikir sistematis menjadi kompetensi kunci. Guru matematika berperan penting dalam menanamkan fondasi tersebut. Kelas pun dirancang lebih dinamis melalui studi kasus industri, analisis data riil, hingga simulasi berbasis teknologi.
Hasil dari pelatihan 50 JP ini diharapkan membuat pembelajaran semakin tajam dalam mengasah nalar siswa. Relevansi materi dengan kebutuhan DUDI juga menjadi fokus utama, sehingga lulusan SMK tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki daya adaptasi tinggi terhadap perkembangan teknologi.
Transformasi ini sekaligus mempertegas bahwa matematika di SMK bukan sekadar angka dan rumus, melainkan bahasa logika yang membentuk cara berpikir profesional masa depan. Guru matematika pun menjadi aktor strategis dalam menyiapkan generasi yang siap bersaing dan berkolaborasi di tengah disrupsi teknologi.

































