Kebijakan meliburkan sekolah menjelang akhir Ramadan memantik perdebatan di Italia. Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini, menilai langkah tersebut tidak selaras dengan nilai serta tradisi yang selama ini dijunjung di negaranya.
Ia menyoroti adanya kecenderungan sebagian pihak yang, demi menghormati pemeluk agama lain, justru menghapus simbol-simbol Katolik dari ruang publik, termasuk salib di ruang kelas. Menurutnya, di tengah kekhawatiran menyinggung perasaan pihak lain hingga simbol Katolik disingkirkan, justru ada kepala sekolah di Provinsi Milan yang memilih menutup sekolah menjelang berakhirnya Ramadan.
Di sisi lain, Menteri Pendidikan Italia, Giuseppe Valditara, meminta penjelasan resmi dari pihak sekolah terkait keputusan tersebut. Ia menegaskan bahwa penambahan hari libur dalam kalender akademik merupakan kewenangan pemerintah daerah maupun nasional, bukan otoritas sekolah secara mandiri.
Meski menuai kritik, kebijakan itu mendapat dukungan dari Keuskupan Agung Milan. Diakon Roberto Pagani, yang sejak 2013 memimpin kantor ekumenisme dan dialog antaragama di keuskupan tersebut, menyatakan dukungannya terhadap keputusan Sekolah Iqbhal Masih.
Menurut Pagani, langkah tersebut dapat menjadi sarana membangun pemahaman di kalangan generasi muda terhadap perbedaan keyakinan. Ia juga mengingatkan bahwa komunitas Muslim di Italia kerap turut berbagi kebahagiaan saat perayaan Natal dan Paskah bersama umat Katolik.
Ia menilai inisiatif yang lahir dari lingkungan sekolah ini sebagai langkah positif untuk membangun jembatan dialog antaragama, khususnya di kalangan pelajar dengan latar belakang kepercayaan berbeda. Keuskupan Milan, lanjutnya, berkomitmen menunjukkan rasa hormat kepada pemeluk agama lain yang tinggal di wilayah tersebut serta mendorong dialog, interaksi, dan integrasi.




























