Pelaksanaan seleksi SMA Garuda yang digelar baru-baru ini ternyata belum menarik minat peserta sebanyak yang diharapkan. Sejumlah sumber menyebutkan, jumlah pendaftar pada gelombang seleksi terakhir relatif lebih sedikit dibandingkan proyeksi awal. Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan: mengapa sekolah dengan konsep unggulan tersebut kurang diminati?
SMA Garuda digagas sebagai sekolah berasrama dengan kurikulum penguatan akademik dan karakter, ditujukan untuk menjaring siswa berprestasi dari berbagai daerah. Program ini dirancang untuk melahirkan generasi unggul yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Namun, dalam praktiknya, respons masyarakat disebut belum maksimal.
Beberapa faktor diduga menjadi penyebab. Pertama, sosialisasi yang dinilai belum merata. Tidak semua calon peserta didik dan orang tua memahami secara detail konsep, keunggulan, maupun prospek lulusan SMA Garuda. Di sejumlah daerah, informasi terkait pendaftaran dan mekanisme seleksi juga belum tersampaikan secara luas.
Kedua, faktor lokasi dan sistem berasrama. Sebagian orang tua masih mempertimbangkan jarak sekolah yang jauh dari domisili serta kesiapan anak untuk tinggal di asrama. Bagi keluarga tertentu, terutama di luar kota besar, melepas anak untuk bersekolah jauh dari rumah menjadi keputusan yang tidak mudah.
Ketiga, munculnya alternatif sekolah unggulan lain, baik negeri maupun swasta, yang sudah lebih dulu dikenal dan memiliki rekam jejak kuat. Persaingan ini membuat calon siswa memiliki lebih banyak pilihan, sehingga minat tidak terpusat pada satu institusi saja.
Selain itu, ada pula pertimbangan terkait biaya tidak langsung, meskipun sekolah menawarkan berbagai skema dukungan atau beasiswa. Kekhawatiran terhadap kebutuhan tambahan seperti transportasi, perlengkapan, atau biaya hidup juga memengaruhi keputusan keluarga.
Pengamat pendidikan menilai, rendahnya minat bukan berarti konsep sekolah tersebut tidak relevan. Justru, ini menjadi momentum evaluasi untuk memperkuat strategi komunikasi publik, transparansi kurikulum, hingga jaminan keberlanjutan studi lulusan.
Pihak penyelenggara SMA Garuda disebut tengah melakukan kajian untuk mengetahui secara lebih detail penyebab minimnya pendaftar. Evaluasi mencakup pola sosialisasi, mekanisme seleksi, hingga kemungkinan penyesuaian kebijakan agar lebih inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Ke depan, keberhasilan program seperti SMA Garuda tidak hanya bergantung pada kualitas kurikulum, tetapi juga pada kepercayaan publik. Tanpa pemahaman yang utuh dan dukungan orang tua, program unggulan sekalipun akan sulit menarik partisipasi luas.
Kini, pertanyaan besar yang tersisa adalah bagaimana penyelenggara mampu menjawab keraguan publik dan membangun daya tarik yang lebih kuat. Sebab pada akhirnya, sekolah unggulan akan dinilai bukan hanya dari konsepnya, tetapi dari seberapa besar ia dipercaya dan diminati masyarakat.



































