Kasus bunuh diri pada anak dan remaja yang kian meningkat memunculkan keprihatinan luas di berbagai kalangan. Fenomena ini dinilai tidak bisa lagi disederhanakan sebagai persoalan “kurang iman” atau “kurang kuat mental”. Para pemerhati kesehatan mental menegaskan bahwa akar persoalan sering kali berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi yang tidak pernah benar-benar diajarkan sejak dini.
Banyak anak tumbuh dalam lingkungan yang menuntut mereka untuk patuh, berprestasi, dan bersikap “baik”, namun minim ruang untuk memahami dan mengelola emosi. Ketika menghadapi tekanan akademik, konflik pertemanan, perundungan, atau masalah keluarga, sebagian anak tidak memiliki keterampilan dasar untuk mengenali, menerima, dan menyalurkan emosi secara sehat.
Pendekatan berbasis keterampilan seperti Dialectical Behavior Therapy (DBT) dinilai dapat menjadi salah satu benteng awal jika diterapkan di lingkungan sekolah. DBT merupakan pendekatan terapi yang menekankan pada kemampuan mindfulness, toleransi terhadap tekanan (distress tolerance), regulasi emosi, serta keterampilan interpersonal.
Dalam konteks pendidikan, prinsip DBT dapat diadaptasi menjadi program pembelajaran sosial-emosional. Alih-alih sekadar meminta anak untuk “sabar” atau “jangan cengeng”, sekolah dapat mengajarkan teknik mindful pause—berhenti sejenak untuk menyadari napas, mengenali emosi yang muncul, dan merespons dengan lebih terkontrol. Latihan sederhana ini membantu anak memahami bahwa emosi bukan musuh, melainkan sinyal yang perlu dikelola.
Pakar kesehatan mental menekankan bahwa membangun ketahanan psikologis bukan berarti menekan perasaan, tetapi mengajarkan cara menghadapi tekanan tanpa merusak diri sendiri. Pendidikan regulasi emosi di sekolah juga dapat membantu mengurangi stigma terhadap masalah psikologis, sehingga siswa lebih berani mencari bantuan ketika merasa kewalahan.
Selain itu, pelibatan guru dan orang tua menjadi kunci keberhasilan. Guru perlu dibekali pemahaman dasar tentang kesehatan mental dan tanda-tanda peringatan dini, sementara orang tua didorong menciptakan komunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi di rumah.
Lonjakan kasus bunuh diri anak menjadi alarm keras bahwa sistem pendidikan tidak cukup hanya fokus pada capaian akademik. Penguatan literasi emosi dan kesehatan mental harus menjadi bagian integral dari kurikulum. Mengajarkan mindful pause, empati, dan keterampilan mengelola tekanan dapat menjadi investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi muda dari krisis yang kerap tersembunyi di balik senyum dan nilai rapor.



































