Pemerintah pusat melalui Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyiapkan kebijakan memasukkan pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) ke seluruh jenjang pendidikan mulai tahun ajaran 2025–2026, dengan pengenalan pertama di kelas 5 SD sebagai mata pelajaran pilihan yang berlanjut hingga SMP dan SMA. Menyambut arah baru tersebut, Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Sulawesi Tenggara bergerak melatih guru agar siap menerapkan pembelajaran coding dan AI dengan pendekatan yang fleksibel dan kontekstual, tanpa harus mengganti kurikulum yang sudah digunakan sekolah. Ketua BGTK Sultra, Surip Widodo, menegaskan fokus utama bukan sekadar penguasaan substansi teknologi, melainkan penguatan cara guru mengajar di kelas melalui pembelajaran mendalam.
Hingga awal 2026, pelatihan kurikulum coding dan kecerdasan artifisial telah menjangkau 662 sekolah dengan melibatkan 662 guru dan tenaga kependidikan, sementara pelatihan pembelajaran mendalam mencakup 808 sekolah dengan 2.760 peserta di wilayah Sulawesi Tenggara. Surip mengakui tantangan terbesar masih terletak pada kemampuan guru yang beragam, terutama di jenjang SD, meskipun dukungan sarana prasarana sudah cukup melalui smartboard, laptop, dan akses internet Starlink di ribuan titik. Ke depan, BGTK Sultra akan menerapkan teaching experimental training, yakni guru langsung praktik mengajar, mengidentifikasi persoalan, lalu membahasnya dalam komunitas belajar dengan pendampingan BGTK. Di tingkat SD, materi difokuskan pada logika dasar, etika digital, dan pemahaman risiko, sementara guru diarahkan membina nalar kritis dan kemampuan memvalidasi informasi, sehingga kurikulum coding dan AI benar-benar memperkuat literasi digital, simulasi, dan kesadaran etika peserta didik.



































