Stella mengungkapkan bahwa banyak orang kerap mempertanyakan apa yang menjadikan tokoh-tokoh besar seperti Michael Jordan, Beethoven, Charles Darwin, hingga Copernicus mampu mencapai tingkat kejeniusannya. Selama ini, anggapan yang berkembang di masyarakat adalah bahwa mereka telah menunjukkan kecerdasan luar biasa sejak usia dini.
Namun, pandangan tersebut kini dipatahkan oleh temuan ilmiah terbaru. Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 18 Desember 2025 berjudul “Recent discoveries on the acquisition of the highest levels of human performance” menunjukkan bahwa para peraih Nobel maupun atlet kelas dunia ternyata memiliki kemampuan yang tergolong biasa saja ketika masih anak-anak.
“Penelitian mutakhir yang dimuat di jurnal Science, jurnal akademik paling bergengsi lintas disiplin, memberikan kesimpulan yang cukup mengejutkan. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa jenius di bidang olahraga, musik, catur, maupun sains tidak lahir sebagai jenius sejak kecil,” jelas Stella.
Hasil penelitian tersebut mencatat bahwa sekitar 90 persen atlet dunia, grandmaster catur, peraih Nobel, serta komposer ternama bukanlah anak-anak berprestasi luar biasa pada masanya. Sebaliknya, lebih dari 80 persen anak yang menjadi juara di usia dini justru tidak berlanjut menjadi tokoh kelas dunia. Pola serupa juga ditemukan di berbagai bidang lainnya.
Dua Faktor Penentu Kejeniusaan
Berdasarkan studi tersebut, Stella menyoroti dua faktor utama yang berperan besar dalam membentuk kejeniusaan seseorang di kemudian hari.
Pertama adalah proses dan waktu. Ia mengutip falsafah Jawa “alon-alon asal kelakon” yang menekankan pentingnya pertumbuhan bertahap dan berkelanjutan. Perkembangan kemampuan tidak bisa dipaksakan secara instan.
Kedua adalah lintas disiplin. Menurut Stella, seseorang memiliki peluang lebih besar menjadi unggul saat dewasa jika sejak kecil atau remaja mereka mengeksplorasi berbagai bidang, tidak hanya fokus pada satu keterampilan saja. Sebaliknya, anak-anak yang sejak awal hanya berlatih secara intensif pada satu bidang cenderung berhenti pada prestasi usia dini.
“Namun sangat sedikit dari mereka yang benar-benar mampu menembus level juara dunia,” ujarnya.
Stella pun mengajak para orang tua, pendidik, dan pemerintah untuk menjadikan temuan ilmiah ini sebagai dasar dalam merancang sistem pendidikan. Ia menegaskan pentingnya meninggalkan pandangan lama yang belum tentu selaras dengan bukti sains.
“Di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, kami akan berupaya menerapkan temuan ini, baik di sekolah Garuda maupun di perguruan tinggi, agar generasi muda Indonesia memiliki peluang yang sama untuk menjadi juara dunia di berbagai bidang,” pungkasnya.





































