Capung selama ini dikenal sebagai serangga yang sering terlihat beterbangan di sekitar sawah, sungai, atau kolam. Namun di balik bentuknya yang indah, capung ternyata memiliki peran penting sebagai indikator alami kebersihan lingkungan. Kehadiran capung dapat menjadi tanda bahwa ekosistem air di suatu wilayah masih sehat dan tidak tercemar.
Para peneliti menjelaskan bahwa capung sangat bergantung pada kualitas air untuk berkembang biak. Larva capung hidup di dalam air dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya berubah menjadi capung dewasa. Jika kualitas air buruk atau tercemar limbah, larva capung akan sulit bertahan hidup. Karena itu, keberadaan capung sering dijadikan penanda bahwa lingkungan perairan masih bersih.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, populasi capung di berbagai wilayah dilaporkan semakin berkurang. Perubahan fungsi lahan, pencemaran air, serta penggunaan pestisida yang berlebihan menjadi faktor utama yang menyebabkan habitat capung semakin menyempit.
Berkurangnya populasi capung bukan hanya soal hilangnya satu jenis serangga, tetapi juga menjadi peringatan dini tentang kondisi lingkungan. Jika capung semakin jarang ditemukan, hal itu bisa menjadi tanda bahwa kualitas air dan ekosistem di sekitar kita sedang mengalami penurunan.
Karena itu, para pemerhati lingkungan mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian alam, terutama menjaga kebersihan sungai, kolam, dan area persawahan. Dengan lingkungan yang terjaga, capung dapat kembali berkembang dan tetap menjadi penanda alami kesehatan ekosistem di sekitar kita.


































