Empat bulan setelah banjir dan longsor besar melanda sejumlah daerah di Sumatra pada November 2025, pemulihan pendidikan di lapangan masih jauh dari kata tuntas. Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengungkapkan masih ada siswa yang harus belajar di tenda darurat karena gedung sekolah mereka mengalami rusak berat.
Menurut Tito, tenda darurat yang digunakan tersebut merupakan bantuan dari BNPB dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, lengkap dengan beberapa peralatan pendukung agar proses belajar tetap bisa berjalan. Namun, kondisi ini tentu tidak senyaman ruang kelas biasa, apalagi jika cuaca panas atau hujan.
Data sementara menunjukkan sekitar 3.700 satuan pendidikan terdampak bencana di kawasan ini. Kerusakan yang dialami bervariasi, mulai dari rusak ringan, sedang, rusak berat, hingga bangunan yang hilang sama sekali tersapu banjir dan longsor. Tito menegaskan, meski situasinya belum ideal, pemerintah menekankan bahwa pendidikan harus tetap berlangsung.
Sekolah yang mengalami kerusakan ringan dan sedang mulai diperbaiki sambil kegiatan belajar tetap berjalan di ruang yang masih bisa digunakan atau di lokasi sementara. Sementara itu, untuk sekolah dengan kerusakan berat, tenda menjadi solusi darurat agar anak-anak tidak terlalu lama berhenti sekolah.
Tito menjelaskan bahwa perbaikan fasilitas pendidikan akan dilakukan secara bertahap dengan skala prioritas, berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan mendesak di tiap daerah. Koordinasi dilakukan antara pemerintah daerah, Kemendikdasmen untuk PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA, serta Kementerian Agama untuk madrasah dan pondok pesantren.



































