Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengingatkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sekolah Indonesia belum merata dan masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah terpencil. Wakil Ketua Umum FSGI, Eka Ilham, menyoroti keterbatasan fasilitas dan minimnya pelatihan guru sebagai hambatan utama dalam penerapan AI di daerah.
“Daerah-daerah seperti NTB, NTT, Papua perlu upaya ekstra untuk mensosialisasikan program AI ini, melalui workshop dan berbagai pelatihan untuk guru,” ujar Eka pada Senin (26/1). Ia menekankan, tanpa intervensi serius, adopsi AI justru dapat memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan antara kota dan daerah.
Menurut Eka, pemerintah harus memberikan perhatian khusus lewat pelatihan yang berkelanjutan serta standar pemanfaatan AI di sekolah, agar teknologi ini benar-benar memberi dampak positif bagi peserta didik. Ia mengingatkan bahwa AI harus disikapi sebagai bagian dari kodrat zaman, namun peran guru tetap tidak tergantikan, terutama dalam membangun karakter dan motivasi siswa. “Guru adalah inspirator dan motivator; hal-hal seperti keteladanan dan pembentukan karakter tidak dimiliki oleh AI,” tegasnya.
Eka juga mengingatkan bahaya budaya instan di kalangan siswa bila AI hanya dipakai untuk menyelesaikan tugas dengan cepat. Ia menegaskan pentingnya tetap mempertahankan pembelajaran berbasis riset lapangan, observasi, dan pengalaman langsung, dengan guru sebagai aktor utama di kelas. “Tujuan pendidikan karakter bisa berdampak baik atau justru negatif dengan penggunaan AI, dan di sinilah guru harus hadir memberi solusi karena paling paham kondisi kelasnya,” ujarnya.
Pandangan FSGI ini sejalan dengan Ketua Kelompok Riset Assessment dan Pembelajaran Pusat Riset Pendidikan BRIN, Syahrul Ramadhan. Syahrul menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan guru, melainkan hanya mengambil alih pekerjaan-pekerjaan rutin. Ia menambahkan, aspek kognitif memang bisa dibantu AI, tetapi pengembangan soft skill dan nilai tetap membutuhkan sentuhan langsung guru. “Jika dulu proses belajar hanya dipandang sebagai transfer of knowledge, sekarang trennya bergeser menjadi transfer of value,” kata Syahrul.































