Di tengah mahalnya biaya hidup, honor Rp500 ribu per bulan mungkin terasa jauh dari kata cukup. Namun bagi Agus Wijaya, guru honorer di Pamulang, angka itu tidak pernah menjadi alasan untuk meninggalkan kelas dan murid-muridnya. Setiap hari ia tetap berdiri di depan papan tulis, mengajar dengan penuh kesabaran dan ketulusan, karena baginya mengajar adalah panggilan hati dan wujud pengabdian untuk masa depan generasi penerus.
Kisah Agus sempat menjadi sorotan karena ketimpangan antara besarnya tanggung jawab seorang guru dan kecilnya penghargaan secara materi. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap memilih bertahan di jalur pendidikan, membimbing siswa-siswinya tanpa banyak keluhan. Cerita inilah yang kemudian menggugah empati banyak pihak, termasuk Kapolres Tangerang Selatan (Tangsel) AKBP Boy Jumalolo.
Sebagai bentuk kepedulian, Kapolres Tangsel mendatangi langsung kediaman Agus Wijaya di kawasan Pamulang. Kunjungan tersebut berlangsung hangat dan penuh nuansa kekeluargaan. Dalam kesempatan itu, AKBP Boy Jumalolo menyerahkan tali asih dan bantuan bagi Agus dan keluarganya. Bantuan ini tidak sekadar materi, tetapi juga simbol dukungan moral agar Agus tetap bersemangat menjalankan perannya sebagai pendidik.




























