NTT – Di tengah keterbatasan dan tantangan geografis, nasib guru honorer di pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menjadi sorotan. Sebagian dari mereka diketahui hanya menerima gaji berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp223 ribu per bulan. Nominal yang jauh dari kata layak itu tetap tidak menyurutkan langkah para guru untuk terus mengajar dan menjaga asa anak-anak di wilayah terpencil.
Kondisi tersebut menggugah kepedulian seorang pegiat edukasi aset digital bernama Suli bersama komunitas yang ia bina, TWS. Berawal dari diskusi di ruang belajar aset digital, muncul kesadaran kolektif bahwa kontribusi nyata lebih dibutuhkan daripada sekadar simpati.
Komunitas TWS kemudian mengambil langkah konkret dengan menggagas komitmen bantuan jangka panjang, bahkan disebut sebagai bantuan seumur hidup bagi para guru honorer di pedalaman NTT. Bantuan tersebut dirancang sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi guru-guru yang selama ini menjadi fondasi pendidikan di daerah dengan akses terbatas.
Menurut Suli, pendidikan adalah pondasi masa depan bangsa, dan guru adalah penjaganya. “Kalau mereka tetap bertahan mengajar dengan gaji yang sangat kecil, sudah seharusnya kita yang punya akses dan kesempatan lebih ikut bertanggung jawab,” ujarnya dalam pernyataan kepada komunitasnya.
Program bantuan ini tidak hanya berbentuk dukungan finansial, tetapi juga dirancang agar berkelanjutan melalui pengelolaan dana komunitas. Skema tersebut memungkinkan para guru penerima bantuan mendapatkan dukungan rutin dalam jangka panjang, sehingga mereka memiliki kepastian tambahan penghasilan di luar gaji honorer yang terbatas.
Langkah Suli dan TWS ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai inisiatif berbasis komunitas seperti ini menjadi bukti bahwa solusi pendidikan tidak selalu harus menunggu kebijakan besar, tetapi bisa lahir dari gerakan kolektif masyarakat.
Meski demikian, perhatian publik juga kembali tertuju pada pentingnya peran negara dalam memastikan kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya di daerah terpencil. Bantuan komunitas dinilai sebagai jembatan kepedulian, namun kebijakan struktural tetap dibutuhkan agar ketimpangan kesejahteraan guru tidak terus berulang.
Di balik angka Rp100 ribu hingga Rp223 ribu yang terasa tak masuk akal itu, ada dedikasi, pengabdian, dan harapan anak-anak Indonesia. Melalui komitmen bantuan seumur hidup ini, Suli dan TWS ingin memastikan bahwa para guru di pedalaman NTT tidak merasa berjalan sendirian dalam menjaga masa depan bangsa.


























