Penurunan kemampuan literasi ini juga tercermin pada tingkat nasional. Dalam 20 tahun terakhir, jumlah orang dewasa di AS yang membaca untuk hiburan turun 40 persen. Survei Program for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) juga menemukan 59 juta warga membaca pada level kompetensi terendah.
Dengan kata lain, generasi muda di AS hampir tidak mampu berhadapan dengan teks tertulis. Tanpa perubahan struktural besar dalam sistem pendidikan, Gen Z kemungkinan tidak akan menjadi generasi terakhir dengan tingkat literasi yang lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.
Mahasiswa generasi Gen Z di perguruan tinggi Amerika Serikat memiliki kemampuan membaca yang sangat rendah. Kondisi ini memaksa para pengajar menurunkan standar akademik agar proses belajar tetap berjalan. Hal ini terungkap dalam laporan Fortune yang mewawancarai sejumlah profesor di kampus – kampus ternama. Profesor Satra Pepperdine University Jessica Hooten Wilson, menyatakan mahasiswa gen Z bukan hanya kesulitan berpikir kritis, tetapi bahkan ” tidak mampu membaca kalimat”
Wilson terpaksa menghapus tugas membaca di luar kelas dan menggantinya dengan pembacaan bersama di dalam keals baris demi baris. Namun metode ini tetap tidak efektif.
Hal serupa juga terjadi di University of Notre Dame. Profesor teologi Timothy O’malley menyebut menurunnya ekspektasi akademik merupakan perubahan besar. Ia dulu memberi tugas membaca 25-40 halaman per kelas, tetapi kini jumlah itu dianggap tidak mungkin dilakukan oleh mahasiswa.
Sejumlah akademis menilai penurunan kemampuan literasi Gen Z tidak bisa dilepaskan dari sejumlah faktorstruktural. Sistem pendidikan dinilai semakin rapuh, pembelajaran mereka terputus COVID-19 dan kebiasaan konsumsi informasi bergeser dari teks ke video serta format audio.



























