Bandung — Inovasi menarik hadir di SMAN 6 Bandung melalui aplikasi bernama Genep Waluya. Aplikasi ini menjadi sarana “push rank” amalan ibadah bagi siswa selama bulan Ramadan, dengan konsep yang dekat dengan keseharian generasi muda.
Genep Waluya merupakan gagasan guru informatika SMAN 6 Bandung, Tonny Hidayat Poniman. Ia mengaku terinspirasi dari fenomena siswa yang akrab dengan gim dan sistem peringkat. Dari situlah muncul ide untuk mengonversi pahala dan berbagai aktivitas kebaikan menjadi poin atau XP (experience points) yang ditampilkan dalam bentuk klasemen (leaderboard).
Konsep tersebut ternyata mendapat respons luar biasa dari para siswa. Mereka saling menyalip peringkat dan berlomba-lomba meningkatkan amalan ibadahnya. Suasana kompetisi yang sehat pun tercipta, namun tetap dalam bingkai spiritual dan kebersamaan.
Tidak hanya mencatat tadarus Al-Qur’an, aplikasi Genep Waluya juga merekam berbagai amaliah Ramadan lainnya, seperti salat fardu dan rawatib, salat duha, tarawih, hingga aksi-aksi ekologis yang dilakukan siswa. Dengan sistem ini, setiap kebaikan yang dilakukan dapat terdokumentasi dan terakumulasi sebagai poin.
Hingga hari keenam Ramadan, tercatat sekitar 400 ribu ayat Al-Qur’an telah dibaca oleh siswa dan terinput dalam sistem aplikasi. Capaian tersebut menunjukkan antusiasme tinggi peserta didik dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Tonny Hidayat Poniman sendiri dikenal sebagai sosok inovatif di bidang pendidikan. Ia merupakan Juara 1 Nasional pada ajang “Hackathon Guru Rumah Pendidikan” tingkat SMA, yang semakin mengukuhkan kiprahnya dalam menghadirkan transformasi digital di sekolah.
Kepala SMAN 6 Bandung, Yadi Setiadi, menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi tersebut. “Kami tidak ingin menjauhkan siswa dari teknologi. Justru kami ingin mengalihkan fokus mereka dari penggunaan teknologi yang kurang bermanfaat menjadi lebih bermanfaat,” ujarnya.
Melalui Genep Waluya, SMAN 6 Bandung membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi sarana pembentuk karakter dan peningkatan spiritualitas. Pendekatan kreatif ini diharapkan mampu menanamkan kebiasaan baik yang tidak hanya berlangsung selama Ramadan, tetapi juga berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.






































