Di tengah kondisi pascabencana yang belum pulih, perjuangan guru di Aceh Tamiang kembali mengingatkan kita bahwa akses pendidikan di daerah terpencil seringkali dibayar dengan pengorbanan besar. Banjir besar yang melanda pada 26 November 2025 membuat jalan dan jembatan menuju sejumlah sekolah di Kecamatan Sekerak amblas dan putus total. Kini, tidak ada lagi jalur darat yang aman untuk dilalui. Satu-satunya cara bagi guru untuk tiba di sekolah adalah menyeberangi Sungai Tamiang menggunakan boat sederhana setiap hari.
Sebagian besar guru yang mengajar di sana sebenarnya tinggal di kecamatan lain. Sebelum banjir, mereka bisa berkendara melalui jalan dan jembatan seperti biasa. Namun setelah infrastruktur rusak, rutinitas mereka berubah drastis. Untuk sekali menyeberang, tarif boat sekitar Rp15.000 per orang. Dalam satu hari, minimal mereka harus mengeluarkan sekitar Rp30.000 hanya untuk ongkos transportasi pulang-pergi, belum termasuk kebutuhan makan dan keperluan lain selama bertugas. Kondisi ini jelas menambah beban biaya, tetapi tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap hadir di kelas.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang menjelaskan, sekolah-sekolah yang terdampak berada di beberapa desa di Kecamatan Sekerak. Di tengah proses rekonstruksi dan rehabilitasi wilayah, pemerintah daerah berharap ada dukungan tambahan bagi guru yang bekerja di kawasan bencana. Saat ini, Kemendikdasmen memiliki program bantuan untuk guru terdampak banjir, dengan usulan sekitar 4.700 guru di Aceh Tamiang sebagai penerima. Nilai bantuannya sekitar Rp2 juta per orang, dibayarkan satu kali langsung ke guru.
Meski jumlah itu belum tentu menutup seluruh biaya yang mereka keluarkan, setidaknya bisa mengurangi beban operasional menuju sekolah. Di balik angka dan program, ada cerita tentang dedikasi: guru yang rela menyeberangi sungai setiap hari, demi memastikan anak-anak di pedalaman tetap mendapatkan haknya untuk belajar, meski akses fisik menuju sekolah jauh dari kata ideal.






























