“Guru di berbagai daerah dihadapkan pada perubahan besar ketika Kurikulum Merdeka mulai diterapkan secara lebih luas. Pendekatan yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen diagnostik menuntut guru untuk mengenali kemampuan, minat, serta kebutuhan setiap siswa sebelum merancang kegiatan belajar. Di lapangan, banyak guru mengaku belum sepenuhnya memahami konsep-konsep tersebut, sehingga pelaksanaan masih menyerupai pola lama yang seragam dan berorientasi pada penuntasan materi. Pelatihan yang diterima pun dinilai masih berfokus pada penjelasan teori dan dokumen regulasi, sementara contoh praktik konkret di kelas, pendampingan berkelanjutan, dan ruang diskusi antarguru masih terbatas.
Kondisi ini diperberat oleh beban administrasi dan tuntutan pemenuhan laporan di berbagai platform, sehingga waktu untuk memperdalam filosofi kurikulum dan merancang strategi diferensiasi menjadi berkurang. Akibatnya, Kurikulum Merdeka berisiko hanya berganti istilah tanpa sepenuhnya mengubah cara belajar-mengajar jika dukungan sistemik bagi guru tidak segera diperkuat.

























