Di MAN 16 Jakarta Barat, hasil pemeriksaan kesehatan rutin hampir selalu menunjukkan pola yang sama: banyak remaja putri memiliki kadar hemoglobin rendah. Temuan ini tidak lagi sekadar angka di atas kertas, tetapi kegelisahan yang mendorong lahirnya sebuah inovasi sederhana dari para guru.
Dwi Karuniawan, Elang Faisal Hudayabrata, dan Siti Marwiyah yang tergabung dalam tim Betapholus mengembangkan biskuit tinggi zat besi dan asam folat sebagai upaya praktis membantu mengurangi risiko anemia pada siswi. “Kami ingin intervensi kesehatan yang tidak rumit dan mudah masuk ke keseharian anak-anak,” demikian salah satu semangat yang mereka bawa dalam proyek ini.
Biskuit Betapholus dibuat dari tepung kacang merah dan bit, dua bahan yang dikenal kaya zat besi dan asam folat. Setiap keping dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa mengubah pola makan secara drastis. Bukan obat, bukan pula suplemen medis, melainkan kudapan yang akrab dan mudah diterima. Pendekatan ini membuat perhatian pada kesehatan hadir bukan sebagai larangan atau kewajiban, tetapi sebagai pilihan yang lebih ramah bagi remaja.
Inisiatif ini mengantarkan Betapholus meraih penghargaan sebagai pemenang kategori Physical Well-Being dalam Kompetisi ASRI 2025. Lebih dari sekadar prestasi, hasil uji coba menunjukkan konsumsi biskuit Betapholus berkontribusi pada peningkatan kadar hemoglobin sejumlah siswa. Bagi para guru, capaian tersebut menjadi bukti bahwa perhatian kecil dapat memicu perubahan nyata, sekaligus menumbuhkan obrolan baru tentang gizi dan kesehatan di lingkungan sekolah, bukan hanya di ruang UKS.
Ke depan, para penggagas melihat peluang agar biskuit Betapholus dikembangkan di sekolah lain dengan persoalan serupa. Untuk itu, mereka memerlukan dukungan lanjutan, mulai dari legalitas produk seperti sertifikasi halal dan izin BPOM, hingga pendanaan agar manfaatnya menjangkau lebih banyak remaja putri.



































