Upaya peningkatan literasi sastra di lingkungan sekolah dasar terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Hal ini terlihat dalam program pendampingan literasi puisi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang diikuti para guru SD Muhammadiyah 9 Malang. Melalui program ini, para guru tidak hanya memperdalam pemahaman puisi, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap teknologi sebagai mitra kreatif dalam pembelajaran.
Pendampingan dimulai dari penguatan pemahaman dasar puisi, mulai dari unsur intrinsik, kepekaan rasa, hingga teknik sederhana menulis puisi yang sesuai dengan karakter siswa sekolah dasar. Para guru diajak kembali menikmati puisi sebagai medium ekspresi, bukan sekadar materi ajar yang kaku.
Tahap berikutnya berfokus pada eksplorasi diksi dan imaji. Guru dilatih memilih kata yang sederhana, puitis, dan dekat dengan dunia anak. Proses ini membantu guru menyusun puisi yang komunikatif sekaligus bermakna, sehingga lebih mudah diadaptasi ke dalam pembelajaran di kelas.
Menariknya, pendampingan ini juga mengenalkan pemanfaatan AI sebagai alat bantu kreatif. Guru mempelajari cara menggunakan AI untuk memantik ide, mengembangkan kosakata, hingga menyusun alternatif diksi tanpa menghilangkan peran manusia sebagai penentu utama karya. AI diposisikan sebagai mitra diskusi, bukan pengganti kreativitas guru.
Dari proses pendampingan tersebut, lahir berbagai karya puisi yang siap digunakan sebagai bahan ajar di kelas. Puisi-puisi ini dirancang kontekstual dengan kehidupan siswa, sehingga dapat mendorong minat baca, kepekaan bahasa, dan keberanian berekspresi anak sejak dini.
Kepala SD Muhammadiyah 9 Malang menyampaikan bahwa program ini memberi perspektif baru bagi guru dalam memanfaatkan teknologi secara bijak. AI tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang memperkaya metode pembelajaran dan membuka ruang inovasi di sekolah dasar.
Pendampingan literasi puisi berbasis AI ini juga menjadi langkah strategis dalam membekali guru menghadapi tantangan pendidikan di era digital. Dengan pemahaman yang tepat, guru dapat menanamkan literasi sastra sekaligus literasi teknologi kepada siswa secara seimbang.
Melalui program ini, SD Muhammadiyah 9 Malang menunjukkan bahwa kolaborasi antara sastra dan teknologi dapat berjalan harmonis. Guru pun tidak hanya naik level dalam literasi puisi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mengajarkan siswa untuk memandang teknologi sebagai sahabat kreatif dalam belajar.



































