– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen) terus memperkuat pemulihan layanan pendidikan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dalam dialog kebijakan bersama media, perwakilan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Jamjam Muzaki, menyebut sebagian besar wilayah terdampak kini memasuki fase transisi pemulihan.
Penanganan dilakukan melalui tiga tahap: siaga darurat, tanggap darurat, dan transisi pemulihan. Di Aceh Tamiang, masa tanggap darurat telah berakhir 24 Februari dan kini memasuki masa transisi tiga bulan.
Dampak bencana mencakup kerusakan bangunan dan fasilitas sekolah, terputusnya akses akibat jalan dan jembatan rusak, hingga gangguan sosial-psikologis warga sekolah. Di beberapa daerah seperti Aceh Tengah, guru bahkan harus menyeberangi sungai dengan seling tambang untuk mengajar.
Sebagai solusi cepat, Kemendikdasmen menyalurkan 168 tenda kelas darurat dan membangun 44 ruang kelas semi permanen. Fasilitas publik seperti asrama haji di Padang juga dimanfaatkan sebagai lokasi belajar sementara. Penanganan dikoordinasikan Satgas Percepatan yang dipimpin Tito Karnavian atas arahan Pratikno.
Dukungan operasional diberikan melalui school kit dan 167 ribu buku teks. Sebanyak Rp220 miliar telah disalurkan kepada 36 ribu dari total 59 ribu guru terdampak, masing-masing menerima Rp6 juta untuk tiga bulan.
Untuk rehabilitasi permanen, 1.741 sekolah telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan nilai Rp1,25 triliun melalui skema swakelola. Sekolah rusak ringan dan sedang ditargetkan selesai sebelum tahun ajaran baru, sedangkan kerusakan berat dan relokasi rampung akhir tahun, sesuai arahan Mendikdasmen Abdul Mu’ti dan zonasi kebencanaan dari Bappenas.
Seluruh proses mengacu pada Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 tentang SPAB. Kemendikdasmen optimistis layanan pendidikan di Sumatra segera pulih dan kembali berjalan aman serta kondusif.






























