Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan menjangkau seluruh anak Indonesia tanpa diskriminasi, termasuk anak yang lahir dari pernikahan siri maupun anak yang sudah putus sekolah. Kebijakan ini ditegaskan sebagai bentuk komitmen negara dalam menjamin pemenuhan gizi anak secara adil dan merata.
Menurut Kepala BGN, MBG dirancang sebagai program berbasis kebutuhan, bukan berbasis status administratif. Negara hadir untuk memastikan setiap anak mendapatkan asupan gizi yang layak demi mendukung tumbuh kembang fisik dan kognitif, terlepas dari latar belakang keluarga maupun status pendidikan mereka.
“Anak-anak dari pernikahan siri, anak yang tidak memiliki dokumen lengkap, bahkan yang sudah putus sekolah tetap menjadi sasaran Program Makan Bergizi Gratis. Fokus kami adalah anaknya, bukan status orang tuanya,” tegas Kepala BGN.
Ia menjelaskan, kekurangan gizi masih menjadi persoalan serius di berbagai daerah dan dapat berdampak jangka panjang, mulai dari gangguan pertumbuhan hingga rendahnya kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, MBG diharapkan menjadi intervensi strategis untuk memutus rantai masalah gizi sejak usia dini.
Untuk menjangkau anak-anak di luar sistem sekolah formal, BGN akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah, puskesmas, kader posyandu, serta perangkat desa. Pendataan dilakukan secara aktif agar anak-anak yang tidak tercatat sebagai peserta didik tetap bisa memperoleh manfaat program.
Kepala BGN juga menekankan bahwa MBG bukan sekadar program pemberian makanan, tetapi bagian dari upaya nasional meningkatkan kualitas hidup anak Indonesia. Program ini diharapkan mampu mendorong kesehatan yang lebih baik, meningkatkan konsentrasi belajar bagi anak usia sekolah, serta menurunkan risiko stunting.
Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen menjaga transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan MBG agar tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dengan pendekatan inklusif ini, MBG diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.


























