Selama ini, matematika sering kali dicap sebagai pelajaran yang bikin pusing terlebih dulu sebelum sempat dipahami. Rumus-rumus terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, sehingga tidak sedikit siswa yang datang ke kelas dengan rasa takut dan tertekan. Melihat tantangan itu, SMPN 4 Pacitan menghadirkan inovasi pembelajaran bernama “Nano Banana” yang mengajak siswa menemukan matematika dari hal-hal yang mereka temui setiap hari.
Nano Banana adalah singkatan dari Numerasi dengan Pendekatan Etnomatematika, Belajar Jadi Menyenangkan. Lewat program ini, konsep angka dan pola dikaitkan dengan kearifan lokal Pacitan. Siswa tidak hanya menatap papan tulis, tetapi diajak mengamati bentuk atap rumah tradisional untuk mempelajari geometri, melihat motif batik pace untuk mengenali pola, hingga mengamati transaksi di pasar tradisional untuk memahami aljabar sederhana dan perhitungan hari.
Guru-guru matematika di SMPN 4 Pacitan mengaku kelas kini terasa lebih hidup. Mereka tidak lagi harus selalu memulai penjelasan dari rumus abstrak, melainkan dari objek yang sudah sangat familiar bagi siswa. Hal ini membuat peserta didik lebih berani bertanya, berdiskusi, dan mencoba memecahkan masalah karena merasa materi dekat dengan dunia mereka. Kepala sekolah menegaskan, kepercayaan diri siswa meningkat dan matematika tidak lagi menjadi mata pelajaran yang dihindari.
Inovasi Nano Banana tidak berhenti di jam intrakurikuler. Sekolah mengembangkannya ke pembelajaran kokurikuler berbasis proyek yang menggabungkan Matematika, PJOK, dan Seni. Melalui permainan tradisional seperti engklek, siswa belajar logika dan geometri, sambil mengasah motorik dan sportivitas di PJOK serta memahami nilai estetika dan filosofi budaya di pelajaran Seni. Pendekatan lintas mata pelajaran ini menunjukkan bahwa matematika sebenarnya hadir di setiap sudut kehidupan, dan ketika disajikan dengan cara yang tepat, pelajaran yang dulu ditakuti bisa berubah menjadi pengalaman belajar yang seru, dekat, dan bermakna.
































