Sejarah Candi Sojiwan
Letak dan Gambaran Umum
Candi Sojiwan merupakan salah satu candi Buddha yang terletak di Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini berada tidak jauh dari kompleks Candi Prambanan dan Candi Sewu, sehingga menjadi bagian dari kawasan penting peninggalan peradaban Jawa Kuno.
Candi Sojiwan dikenal sebagai candi bercorak Buddha Mahayana yang memiliki keunikan tersendiri, terutama pada relief-relief cerita moral yang menghiasi kaki candinya.
Latar Belakang Sejarah
Candi Sojiwan diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi, pada masa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno, khususnya pada periode Dinasti Sailendra yang dikenal sebagai penganut agama Buddha.
Hal ini diperkuat dengan temuan Prasasti Sojiwan yang ditemukan tidak jauh dari lokasi candi. Prasasti tersebut bertarikh tahun 842 Masehi, berangka tahun 764 Saka, dan menyebutkan nama Rakryan Mahamantri i Hino Sri Kahulunnan, yang diyakini sebagai Permaisuri Pramodhawardhani, putri Raja Samaratungga dari Dinasti Sailendra.
Prasasti ini menyebutkan pembangunan sebuah bangunan suci bernama Wenuwana, yang oleh para ahli diidentifikasi sebagai Candi Sojiwan.
Fungsi dan Makna Candi
Candi Sojiwan dibangun sebagai bangunan suci keagamaan sekaligus tempat pemujaan dan pendidikan moral ajaran Buddha. Hal ini tercermin dari relief-relief yang menggambarkan kisah Jataka, yaitu cerita tentang kehidupan Sang Buddha dalam berbagai kelahiran sebelumnya.
Relief Jataka di Candi Sojiwan sarat dengan pesan moral seperti:
- pentingnya kejujuran
- sikap welas asih
- kesetiaan
- pengendalian diri
- keadilan dan kebijaksanaan
Cerita-cerita tersebut disajikan dalam bentuk kisah binatang dan manusia yang mudah dipahami oleh masyarakat pada masa itu.
Arsitektur dan Struktur Bangunan
Candi Sojiwan berdiri di atas batur (alas) yang cukup luas, dengan bangunan utama menghadap ke arah barat. Di sekelilingnya terdapat sisa-sisa bangunan pendukung, meskipun sebagian besar sudah tidak utuh.
Ciri khas arsitektur Candi Sojiwan antara lain:
- Struktur bangunan simetris
- Hiasan makara dan kala pada pintu masuk
- Relief cerita Jataka di kaki candi
- Bentuk bangunan yang sederhana namun elegan
Di dalam bilik utama candi diduga dahulu terdapat arca Buddha, meskipun kini sudah tidak ditemukan lagi.
Relief Cerita Jataka
Salah satu keistimewaan Candi Sojiwan adalah relief Jataka yang terpahat dengan sangat halus. Beberapa cerita yang dapat dikenali antara lain kisah tentang:
- Burung yang setia pada janjinya
- Hewan-hewan yang menunjukkan kebijaksanaan
- Tokoh yang berkorban demi kebenaran
Relief-relief ini berfungsi sebagai media pendidikan karakter bagi masyarakat pada masa Mataram Kuno.
Penemuan dan Pemugaran
Candi Sojiwan pertama kali dilaporkan keberadaannya pada awal abad ke-19, namun dalam kondisi rusak dan tertimbun tanah. Upaya pemugaran dilakukan secara bertahap oleh pemerintah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia.
Pemugaran besar-besaran dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan resmi diselesaikan pada tahun 2011. Setelah dipugar, bentuk Candi Sojiwan dapat dinikmati kembali secara utuh dan menjadi salah satu situs bersejarah penting di Jawa Tengah.
Nilai Sejarah dan Budaya
Candi Sojiwan memiliki nilai penting karena:
- Menunjukkan kejayaan peradaban Buddha di Jawa
- Menjadi bukti toleransi dan keberagaman agama pada masa Mataram Kuno
- Mengandung nilai pendidikan moral dan karakter
- Menjadi sumber pembelajaran sejarah dan arkeologi
Keberadaan Candi Sojiwan juga memperkaya pemahaman tentang hubungan Dinasti Sailendra dengan Dinasti Sanjaya yang hidup berdampingan secara damai.
Candi Sojiwan di Masa Kini
Saat ini, Candi Sojiwan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan edukasi yang terbuka untuk umum. Selain sebagai objek wisata, candi ini juga kerap digunakan sebagai lokasi penelitian, kegiatan budaya, serta pembelajaran sejarah bagi pelajar dan mahasiswa.





































