LUMAJANG – Perjuangan siswa di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, untuk menuntut ilmu menyentuh hati publik. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan kondisi alam yang belum pulih, sejumlah siswa terpaksa menaiki alat berat demi bisa sampai ke sekolah.
Kondisi ini terjadi akibat akses jalan menuju sekolah rusak parah, terutama di wilayah yang terdampak bencana alam seperti banjir lahar dingin dan longsor. Jalan yang biasanya dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat dilewati dengan aman, sehingga alat berat yang sedang beroperasi di lokasi menjadi satu-satunya sarana untuk menyeberangi area berbahaya.
Dalam sejumlah rekaman yang beredar, tampak siswa berseragam sekolah menaiki ekskavator dengan pengawasan operator dan warga sekitar. Mereka harus melintasi jalur berlumpur dan sungai kecil yang dipenuhi material pasir dan batu. Meski tampak berisiko, langkah tersebut terpaksa diambil agar para siswa tidak tertinggal pelajaran.
“Kalau tidak naik alat berat, anak-anak tidak bisa berangkat sekolah. Jalannya masih tertutup material,” ujar salah satu warga setempat.
Pihak sekolah membenarkan kondisi tersebut. Menurut keterangan guru, kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan karena sebagian besar siswa ingin tetap masuk sekolah meskipun harus menghadapi medan yang sulit. Sekolah juga terus berkoordinasi dengan orang tua dan pemerintah desa untuk memastikan keselamatan siswa selama perjalanan.
Pemerintah daerah melalui instansi terkait menyatakan telah melakukan pembersihan dan perbaikan akses jalan secara bertahap. Alat berat yang digunakan untuk normalisasi sungai dan pembukaan jalan sementara dimanfaatkan warga, dengan pengaturan ketat agar tidak membahayakan anak-anak.
Namun, pengamat pendidikan menilai situasi ini mencerminkan masih rapuhnya akses pendidikan di daerah rawan bencana. Mereka mendorong pemerintah untuk menyediakan jalur darurat yang aman, transportasi khusus bagi siswa, serta opsi pembelajaran alternatif ketika kondisi belum memungkinkan.
Bagi siswa-siswa di Lumajang, naik alat berat bukan sekadar pengalaman ekstrem, melainkan bukti kuatnya tekad untuk tetap bersekolah. Di balik risiko dan keterbatasan, semangat mereka menjadi pengingat bahwa hak pendidikan sering kali harus diperjuangkan dengan cara yang tidak mudah.





































