ACEH – Pemandangan haru sekaligus memprihatinkan terlihat di sejumlah wilayah di Aceh pascabanjir. Demi memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah, orang tua terpaksa menggendong anaknya menyeberangi sungai yang meluap dan merusak akses jalan menuju sekolah.
Banjir yang melanda beberapa daerah menyebabkan jembatan rusak, jalan terputus, dan akses transportasi lumpuh. Kondisi tersebut memaksa warga mencari cara seadanya agar aktivitas pendidikan tetap berjalan. Dalam situasi ini, orang tua mengambil peran besar, mempertaruhkan tenaga dan keselamatan demi anak-anak mereka tidak tertinggal pelajaran.
Sejumlah orang tua terlihat menyeberangi aliran sungai dengan arus yang masih cukup deras, sambil menggendong anak berseragam sekolah dan membawa tas di atas kepala agar tidak basah. Momen ini menjadi gambaran nyata perjuangan keluarga di daerah terdampak bencana untuk mempertahankan hak pendidikan anak.
“Kalau tidak digendong, anak saya tidak bisa berangkat sekolah. Jalannya belum bisa dilewati,” ujar salah seorang orang tua dengan nada pasrah.
Pihak sekolah menyebutkan bahwa pascabanjir, kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan secara terbatas, meski dengan berbagai keterbatasan. Guru dan siswa harus menyesuaikan kondisi lapangan, sementara fasilitas sekolah juga masih dalam tahap pembersihan dari sisa lumpur dan genangan air.
Dinas Pendidikan setempat mengakui bahwa banjir berdampak signifikan terhadap akses pendidikan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait tengah melakukan pendataan kerusakan infrastruktur, termasuk jalan dan jembatan menuju sekolah, serta menyiapkan langkah penanganan sementara agar aktivitas belajar tidak terhenti.
Pengamat pendidikan menilai kondisi ini mencerminkan ketimpangan akses pendidikan di daerah rawan bencana. Mereka menekankan perlunya solusi jangka panjang, seperti pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan sistem pembelajaran darurat yang aman bagi siswa.
Realita orang tua menggendong anak menyeberangi sungai ini menjadi pengingat bahwa bagi sebagian masyarakat, pergi ke sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan. Di tengah keterbatasan pascabanjir, semangat orang tua dan anak-anak Aceh untuk tetap menuntut ilmu menjadi potret keteguhan yang sekaligus mengetuk nurani banyak pihak.





































