Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah CNBC menunjukkan bahwa sekolah negeri masih menjadi tulang punggung pendidikan dasar dan menengah pertama di Indonesia. Pada jenjang sekolah dasar (SD), sekolah negeri menampung sekitar 86,75 persen peserta didik, sementara di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) angkanya mencapai 55,86 persen.
Sebaliknya, dominasi sekolah swasta terlihat jelas pada jenjang pendidikan menengah. Di tingkat sekolah menengah atas (SMA), sekolah swasta menampung 51,53 persen siswa, sedangkan pada sekolah menengah kejuruan (SMK) proporsinya bahkan mencapai 73,65 persen.
Meski demikian, dalam rentang waktu 2021 hingga 2024, jumlah siswa di sekolah negeri tercatat terus mengalami penurunan. Di sisi lain, sekolah swasta justru menunjukkan tren pertumbuhan jumlah peserta didik. Kondisi ini mengindikasikan adanya perubahan pilihan masyarakat terhadap lembaga pendidikan, bahkan sejak jenjang pendidikan dasar.
Namun, penurunan jumlah siswa di sekolah negeri tidak sepenuhnya dapat diartikan sebagai peralihan masif orang tua ke sekolah swasta. Faktor demografi, seperti penurunan angka kelahiran dan jumlah penduduk usia sekolah, juga berpotensi memengaruhi berkurangnya jumlah siswa, khususnya di tingkat SD negeri.
Pada jenjang SMP, SMA, dan SMK, sekolah negeri masih menampung jumlah siswa yang besar. Meski demikian, sekolah swasta tetap mencatat peningkatan partisipasi. Khusus pada jenjang SMK, jumlah siswa di sekolah swasta masih lebih banyak dibandingkan sekolah negeri.
Data tersebut mencerminkan adanya pergeseran minat dan preferensi masyarakat dari sekolah negeri menuju sekolah swasta, terutama pada jenjang pendidikan menengah atas. Pergeseran ini diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari persepsi kualitas layanan pendidikan, kelengkapan fasilitas, fleksibilitas kurikulum, hingga lingkungan belajar yang dinilai lebih kondusif di sekolah swasta.
Selain itu, faktor ekonomi turut memengaruhi keputusan orang tua dalam memilih sekolah. Keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke atas cenderung lebih leluasa memilih sekolah swasta karena memiliki daya beli yang memadai. Sementara itu, keluarga berpenghasilan rendah masih mengandalkan sekolah negeri yang relatif lebih terjangkau karena disubsidi oleh pemerintah.
Minat terhadap sekolah swasta juga lebih kuat di wilayah perkotaan. Akses transportasi yang lebih baik serta kecenderungan masyarakat kota terhadap model dan pendekatan pendidikan tertentu menjadi faktor pendorong meningkatnya pilihan terhadap sekolah swasta.































