Budaya hafalan di kelas sekolah dasar (SD) dinilai masih kuat, padahal dunia kerja saat ini membutuhkan generasi yang mampu bernalar, bukan sekadar mengingat rumus. Untuk menjawab tantangan tersebut, digelar Pelatihan Gernas Tastaka di Mamuju yang mendorong perubahan cara mengajar matematika di tingkat dasar.
Melalui pelatihan ini, para guru diajak menerapkan pendekatan konkret–gambar–abstrak dalam pembelajaran matematika. Metode tersebut membantu siswa memahami konsep secara bertahap: mulai dari benda nyata, beralih ke representasi visual, hingga ke simbol atau rumus abstrak. Dengan cara ini, logika dan pola pikir siswa dibangun sejak dini.
Pelatihan ini menekankan pentingnya pemahaman pedagogi matematika yang tepat. Ketika guru menguasai metode pengajaran yang benar, kelas tidak lagi hanya dipenuhi latihan soal berulang (drill), melainkan menjadi ruang interaktif untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, dan memecahkan masalah nyata.
Diharapkan, jika kemampuan bernalar anak dibentuk sejak SD, mereka tidak hanya siap menghadapi ujian, tetapi juga lebih tangguh menghadapi tantangan hidup serta mampu bersaing di tingkat global.







































