Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pemerintah akan mengukur perkembangan otak anak-anak penerima program Makanan Bergizi (MBG).
Zulhas menyebutkan, berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) penerima manfaat MBG di tingkat sekolah dasar dan menengah hampir mencapai 90-95 persen secara nasional.
Hanya saja, dia menerima keluhan dari Menteri Agama Nazaruddin Umar soal kekurangan penerima manfaat di pondok pesantren (ponpes), dengan data yang tercatat hanya sekitar 20 persen penerima.
Dengan demikian, masing-masing lembaga seperti Kemenko Pangan, Kementerian Agama, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) juga Kemendikdasmen untuk mencocokkan data.
“Kita harapkan data-data yang benar terbaik sehingga nanti setelah satu tahun makan bergizi kita ukur, kalau sebelum makan bergizi bagaimana fisiknya, pertumbuhan otak, setelah satu tahun bagaimana, 2 tahun bagaimana, 3 tahun seperti apa, 4 tahun seperti apa dan seterusnya,” kata Zulhas dalam konferensi pers di Kantor Menko Pangan, Jakarta, Kamis (29/1).
Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BGN), Dadan Hindayana, menuturkan pengukuran perkembangan otak akan dilakukan melalui tes IQ oleh lembaga independen.
“Tentu saja itu akan jadi bagian dari output yang harus diukur nanti yang ukurnya harus lembaga independen,” ujarnya.
Dia memberi contoh Jepang, yang mengukur peningkatan kualitas gizi masyarakat melalui perubahan tinggi badan rata-rata sejak tahun 1940-an hingga 2000-an, berkat konsumsi ikan yang bergizi. Dadan optimistis Indonesia dapat mencapai hal serupa, dengan pemberian MBG.































