Pemerintah mengambil langkah tegas dengan membatasi penggunaan kecerdasan buatan (AI) instan, seperti ChatGPT, bagi siswa tingkat SD hingga SMA. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga kemampuan berpikir kritis siswa sekaligus mencegah ketergantungan berlebihan terhadap teknologi dalam proses belajar.
Pembatasan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap semakin maraknya penggunaan AI dalam menyelesaikan tugas sekolah secara instan, yang dikhawatirkan dapat mengurangi kemampuan analisis, kreativitas, dan pemecahan masalah para pelajar.
Meski demikian, pemerintah tetap mendorong pemanfaatan teknologi secara bijak dalam dunia pendidikan. Sebagai langkah pendukung, berbagai program pelatihan untuk guru telah disiapkan, termasuk penyediaan bahan ajar terkait coding dan kecerdasan buatan. Hal ini bertujuan agar pemanfaatan teknologi tetap terarah dan memberikan nilai tambah dalam pembelajaran.
Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami cara kerja dan manfaatnya secara mendalam. Pendidikan pun diharapkan dapat menghasilkan generasi yang cakap digital, namun tetap memiliki kemampuan berpikir mandiri dan kritis
































