Dinas Pendidikan Kota Surakarta mulai merancang panduan khusus pembelajaran luar kelas (outing class) yang mengangkat potensi wisata lokal untuk diterapkan pada tahun ajaran 2027. Langkah ini diambil agar pengalaman belajar siswa lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus memanfaatkan kekayaan sejarah dan budaya yang ada di Kota Bengawan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dwi Ariyatno, menegaskan bahwa setiap kegiatan kunjungan wisata wajib memiliki muatan materi pembelajaran yang jelas dan kuat. Ia mencontohkan, kunjungan ke Museum Keris tidak berhenti pada melihat koleksi, tetapi harus dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu metalurgi dan unsur logam yang selaras dengan kurikulum yang diajarkan di sekolah.
“Harapan kami, siswa tidak harus terus-menerus pergi ke Bali jika substansi pembelajarannya ada di sekitar kita. Objek wisata lokal akan menjadi laboratorium belajar yang relevan bagi anak-anak,” ujar Dwi Ariyatno dalam Diskusi Kelompok Terbatas (DKT) di Aula Dinas Pendidikan Kota Surakarta.
Selain penguatan konsep wisata edukasi, Disdik juga menyiapkan agenda besar lain untuk tahun 2027, yakni memperluas layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pemerintah Kota Surakarta menargetkan seluruh anak usia dini dapat terfasilitasi dalam sistem pendidikan yang layak, inklusif, dan merata.
Salah satu skema yang disusun adalah program buy service, yaitu pembelian layanan pendidikan di lembaga PAUD swasta bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. “Kami beli layanan di PAUD swasta untuk anak-anak yang menjadi prioritas, sehingga cakupan layanan pendidikan anak usia dini bisa diperluas secara merata,” tutur Dwi.
Dwi menambahkan, sinergi antara pengembangan wisata edukasi dan perluasan layanan PAUD menjadi bagian dari rencana strategis pembangunan pendidikan jangka panjang di Surakarta. Upaya ini sejalan dengan misi pemerintah daerah untuk memastikan perlindungan sosial dan akses pendidikan berkualitas bagi seluruh warga tanpa terkecuali.
Dengan perencanaan yang matang menyambut tahun 2027, Dinas Pendidikan optimistis Kota Surakarta dapat menjadi barometer pendidikan inklusif di Indonesia. Keterlibatan aktif masyarakat, sekolah, dan perangkat daerah.


































