Jawa Timur – Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selama ini dipromosikan sebagai tenaga kerja siap pakai. Namun data per November 2025 menunjukkan fakta yang memprihatinkan: lulusan SMK justru menyumbang angka pengangguran terbuka tertinggi di Jawa Timur, yakni sebesar 5,99 persen.
Kondisi ini memicu alarm bagi Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) bersama Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV) untuk mendorong penguatan pendidikan vokasi secara lebih konkret dan terukur.
Ketua Kadin Jatim menilai tingginya angka pengangguran lulusan SMK menjadi sinyal bahwa konsep “siap kerja” belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan industri. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, SMK, lembaga pelatihan, dan dunia usaha dinilai harus diperkuat agar link and match tidak berhenti pada jargon.
Sebagai langkah strategis, TKDV ditargetkan terbentuk di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur hingga akhir 2026. Melalui wadah ini, koordinasi lintas sektor diharapkan berjalan lebih sistematis dalam menyelaraskan kebutuhan industri dengan kompetensi yang diajarkan di sekolah.
Program yang didorong mencakup skema industri mengajar, di mana praktisi langsung terlibat dalam proses pembelajaran, sinkronisasi kurikulum agar sesuai perkembangan pasar kerja, serta penguatan sertifikasi profesi bagi siswa. Dengan sertifikasi yang relevan, lulusan diharapkan memiliki pengakuan kompetensi yang lebih jelas dan diakui industri.
Saat ini, baru sekitar 20 persen dari total SMK di Jawa Timur yang terlibat aktif dalam skema kerja sama tersebut. Artinya, masih terdapat potensi besar untuk memperluas kolaborasi, khususnya di sektor industri manufaktur, perdagangan, dan pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Kadin Jatim menegaskan, tujuan akhir dari penguatan vokasi bukan hanya menekan angka pengangguran, tetapi memastikan setiap siswa memiliki keterampilan terarah dan aplikatif. Implementasi program diharapkan benar-benar menyentuh ruang praktik, bukan sekadar administrasi kerja sama di atas kertas.
Dengan sinergi yang lebih solid dan implementasi yang konsisten, pendidikan vokasi di Jawa Timur diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, serta memiliki pilihan: siap bersaing di dunia kerja maupun membuka peluang usaha secara mandiri.



































