Setiap hari, para guru SMP Negeri 3 Mapat Tunggul, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, harus berjibaku dengan kondisi medan yang berat demi menjalankan tugas mulia mencerdaskan anak bangsa. Jalan tanah yang licin, berlumpur, dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan, menjadi tantangan rutin yang harus mereka taklukkan sebelum tiba di sekolah.
Akses menuju SMPN 3 Mapat Tunggul dikenal cukup ekstrem. Para guru kerap mengandalkan ojek untuk mencapai lokasi sekolah, dengan biaya yang tidak sedikit. Ongkos ojek sekali jalan dapat mencapai Rp200 ribu, angka yang terbilang besar jika dibandingkan dengan penghasilan dan kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara itu, harga bahan bakar minyak (BBM) di wilayah tersebut bisa menembus Rp25 ribu per liter akibat sulitnya distribusi ke daerah terpencil.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan tekad para pendidik. Semangat untuk tetap hadir di kelas dan memastikan siswa mendapatkan haknya atas pendidikan yang layak menjadi alasan utama mereka bertahan. Bagi para guru SMPN 3 Mapat Tunggul, pengabdian kepada dunia pendidikan jauh lebih berharga dibandingkan kenyamanan pribadi.
Kepala sekolah dan para guru mengungkapkan bahwa perjalanan menuju sekolah sering kali memakan waktu berjam-jam, bahkan berisiko tergelincir atau terjebak di tengah jalan. Namun, demi masa depan anak-anak di pelosok Pasaman, mereka memilih untuk terus melangkah, meski harus mengorbankan tenaga, waktu, dan biaya yang tidak sedikit.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata tantangan pendidikan di daerah terpencil. Keterbatasan infrastruktur jalan dan mahalnya biaya transportasi masih menjadi persoalan utama yang dihadapi tenaga pendidik di wilayah pelosok. Para guru berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait, khususnya dalam perbaikan akses jalan dan dukungan transportasi, agar aktivitas belajar mengajar dapat berlangsung lebih aman dan lancar.
Potret perjuangan guru SMPN 3 Mapat Tunggul ini menjadi pengingat bahwa di balik proses pendidikan, terdapat dedikasi luar biasa dari para pendidik yang rela berjuang di tengah keterbatasan. Semangat mereka adalah cerminan nyata pengabdian tanpa pamrih demi mencerdaskan generasi penerus bangsa, sekaligus seruan agar pemerataan pembangunan pendidikan benar-benar dirasakan hingga ke pelosok negeri.

































