Lingkungan belajar yang aman dan penuh kasih terbukti mampu membawa perubahan besar bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi sangat terbatas. Hal ini terlihat di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, di mana siswa-siswa yang sebelumnya kerap berkelahi dan berteriak kini mulai menunjukkan perilaku yang lebih tenang, percaya diri, dan saling menghargai.
Sebelum bergabung dengan Sekolah Rakyat, banyak siswa SRMP 19 Kupang tumbuh dalam situasi kehidupan yang keras dan penuh keterbatasan. Kondisi tersebut berdampak pada perilaku mereka di sekolah, yang sering kali diekspresikan melalui kemarahan, pertengkaran, dan kesulitan mengendalikan emosi.
Melalui penerapan pola asuh penuh kasih, Sekolah Rakyat berupaya menghadirkan suasana belajar yang berbeda. Guru dan pendamping tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur yang memberikan rasa aman, perhatian, dan penghargaan terhadap setiap anak.
“Kami ingin anak-anak merasa diterima dan dihargai terlebih dahulu. Setelah itu, proses belajar akan mengikuti dengan sendirinya,” ujar salah satu pendidik di SRMP 19 Kupang.
Pendekatan ini mencakup komunikasi yang empatik, pendampingan intensif, serta penanaman nilai-nilai saling menghormati dalam setiap aktivitas sekolah. Anak-anak diajak untuk mengenali dan mengelola emosi, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, serta membangun rasa percaya terhadap lingkungan sekitar.
Perubahan pun mulai terlihat. Suasana kelas menjadi lebih kondusif, interaksi antarsiswa lebih positif, dan anak-anak menunjukkan semangat belajar yang meningkat. Mereka tidak lagi merasa terancam, melainkan aman, tenang, dan dihargai.
Kisah di SRMP 19 Kupang menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya soal materi pelajaran, tetapi juga tentang pemulihan, pendampingan, dan kasih sayang. Dengan pendekatan yang tepat, Sekolah Rakyat diharapkan dapat terus menjadi ruang tumbuh yang memanusiakan anak dan membuka masa depan yang lebih baik bagi mereka.
































