Jakarta – Wacana penerapan kembali sistem belajar dari rumah (BDR) yang direncanakan mulai April menuai penolakan dari sejumlah anggota DPR. Mereka menilai kebijakan tersebut kurang efektif dalam menunjang proses pembelajaran siswa, terutama dari sisi pemahaman materi dan interaksi langsung dengan guru.
Salah satu anggota DPR menyampaikan bahwa pengalaman selama pandemi menunjukkan banyak kendala dalam pelaksanaan BDR. Mulai dari keterbatasan akses internet, kurangnya pendampingan orang tua, hingga menurunnya motivasi belajar siswa.
“Belajar dari rumah terbukti memiliki banyak tantangan. Tidak semua siswa memiliki fasilitas yang memadai, dan hal ini justru berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan,” ujarnya.
Selain itu, sistem pembelajaran jarak jauh dinilai tidak mampu menggantikan efektivitas interaksi tatap muka di kelas. Guru juga kesulitan memantau perkembangan siswa secara menyeluruh, baik dari segi akademik maupun karakter.
Di sisi lain, pemerintah disebut perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kualitas pendidikan jika kebijakan ini kembali diterapkan. DPR mendorong agar solusi alternatif diprioritaskan, seperti peningkatan protokol kesehatan di sekolah atau sistem pembelajaran hybrid.
Para orang tua pun turut menyuarakan kekhawatiran mereka. Banyak yang merasa kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan mendampingi anak belajar di rumah.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, DPR berharap pemerintah dapat mengkaji ulang wacana ini secara matang sebelum mengambil keputusan, agar tidak merugikan siswa sebagai pihak yang paling terdampak.








































