Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya menjaga etika dan sopan santun di lingkungan pendidikan. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan baru-baru ini, Presiden menyoroti maraknya kasus siswa yang berlaku tidak hormat kepada guru, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
“Anak boleh nakal, tapi tidak boleh kurang ajar,” tegas Presiden. Ia menekankan bahwa kenakalan sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak adalah hal yang wajar, namun tindakan yang merendahkan atau melawan guru tidak dapat ditoleransi.
Presiden Prabowo menuturkan bahwa ketika seorang guru menegur atau mengarahkan, siswa wajib menghormati. Teguran guru, menurutnya, adalah bagian dari proses pendidikan dan bentuk kepedulian terhadap perkembangan karakter anak. “Sikap membalas, merasa jagoan, dan merendahkan guru bukan hanya salah—itu melukai martabat pendidikan kita,” ujarnya.
Lebih jauh, Presiden mengajak seluruh masyarakat, terutama orang tua dan pihak sekolah, untuk bersama-sama mengembalikan wibawa guru sebagai pendidik dan pembimbing. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia Indonesia sangat ditentukan oleh kekuatan karakter dan pendidikan yang ditanamkan para guru.
“Mari jaga wibawa guru, karena dari merekalah masa depan bangsa dibentuk,” pungkas Presiden.
Pernyataan ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa penghormatan terhadap guru adalah fondasi utama dalam menciptakan generasi muda yang berkarakter, beretika, dan siap memajukan Indonesia.




































