Ruang kelas boleh saja sempat terendam banjir, tetapi masa depan anak-anak Medan tidak boleh ikut tenggelam. Pascabencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Medan, aktivitas pendidikan perlahan kembali berjalan meski dengan berbagai keterbatasan.
Sejumlah sekolah yang terdampak kini memulai kembali kegiatan belajar mengajar dengan memanfaatkan tenda-tenda darurat sebagai ruang kelas sementara. Tenda tersebut menjadi solusi agar proses pembelajaran tidak terhenti terlalu lama, sekaligus menjaga rutinitas anak-anak di tengah situasi pascabencana.
Selain menyediakan ruang belajar darurat, para siswa juga menerima bantuan schoolkit berupa tas, buku tulis, alat tulis, dan perlengkapan belajar lainnya. Bantuan ini membantu meringankan beban orang tua sekaligus memastikan anak-anak tetap dapat mengikuti pelajaran meski perlengkapan sekolah mereka rusak atau hilang akibat banjir.
Tak kalah penting, pendampingan psikososial dan trauma healing turut diberikan kepada para siswa. Melalui kegiatan bermain, bercerita, dan belajar yang menyenangkan, anak-anak dibantu untuk memulihkan rasa aman dan kepercayaan diri setelah mengalami peristiwa traumatis. Sekolah kembali dihadirkan sebagai ruang yang aman, nyaman, dan penuh harapan.
Pemerintah daerah bersama berbagai pihak terus berupaya mempercepat pemulihan sarana dan prasarana pendidikan yang terdampak banjir. Upaya ini dilakukan agar sekolah dapat segera kembali berfungsi secara normal dan memberikan layanan pendidikan yang layak bagi seluruh siswa.
Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian, sekolah-sekolah di Medan perlahan bangkit. Di tengah tenda darurat dan ruang belajar sementara, anak-anak kembali menata mimpi dan harapan, membuktikan bahwa bencana tidak boleh menghentikan langkah mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik.


























