Dalam rapat kerja bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Sigit Purnomo menyoroti belum adanya dukungan khusus yang menyentuh guru ngaji dan tenaga honorer perempuan dalam berbagai program prioritas pemerintah. Menurutnya, kelompok ini memiliki peran strategis di masyarakat, namun masih kerap luput dari skema perlindungan dan pemberdayaan yang memadai.
Sigit menegaskan bahwa guru ngaji dan honorer perempuan tidak hanya berperan sebagai pendidik dan pelayan sosial, tetapi juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Dengan penghasilan yang relatif kecil dan status kerja yang tidak selalu pasti, mereka seharusnya mendapat perhatian lebih dari negara melalui kebijakan yang berpihak dan berkeadilan.
“Banyak guru ngaji dan honorer perempuan yang menopang kebutuhan keluarga. Namun sampai hari ini, belum ada skema khusus yang benar-benar melindungi dan memberdayakan mereka,” ujar Sigit dalam rapat tersebut.
Ia menilai, program-program prioritas yang ada selama ini masih bersifat umum dan belum menyentuh kebutuhan spesifik kelompok perempuan pekerja sektor informal dan semi-formal seperti guru ngaji dan honorer. Padahal, tantangan yang dihadapi kelompok ini berlapis, mulai dari keterbatasan ekonomi, minimnya jaminan sosial, hingga akses terhadap pelatihan dan peningkatan kapasitas.
Sigit mendorong KemenPPPA untuk merumuskan kebijakan afirmatif yang lebih konkret, termasuk skema bantuan yang jelas, program pemberdayaan ekonomi, serta perlindungan sosial yang berkelanjutan. Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar guru ngaji dan honorer perempuan tidak hanya dilihat sebagai pelengkap sistem pendidikan dan sosial, tetapi sebagai subjek pembangunan yang perlu diperkuat.
Menanggapi hal tersebut, KemenPPPA menyatakan akan menampung berbagai masukan yang disampaikan dalam rapat sebagai bahan evaluasi dan perumusan kebijakan ke depan. Sinergi lintas kementerian dan lembaga dinilai menjadi kunci agar perlindungan dan pemberdayaan perempuan dapat berjalan lebih inklusif dan tepat sasaran.
Sigit berharap, ke depan negara hadir secara nyata bagi guru ngaji dan honorer perempuan melalui kebijakan yang memberi kepastian, perlindungan, serta peluang peningkatan kesejahteraan. Dengan dukungan yang tepat, peran mereka dalam mendidik, membina karakter, dan menjaga ketahanan keluarga dapat semakin optimal.





































