Fakta memprihatinkan datang dari sejumlah SMP di Kabupaten Semarang. Di berbagai sekolah, masih ditemukan siswa yang duduk di bangku SMP tetapi belum menguasai kemampuan dasar membaca dan menulis. Temuan ini disampaikan pengawas sekolah dan kemudian disoroti oleh DPRD serta Dewan Pendidikan setempat. Kondisi tersebut dinilai sebagai tanda serius bahwa mutu pendidikan di daerah ini perlu segera mendapat perhatian lebih.
Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening, menjelaskan bahwa sebagian besar siswa yang belum lancar baca-tulis merupakan siswa inklusi, meski ada juga yang berasal dari jalur reguler. Mereka seharusnya mendapatkan layanan pendidikan khusus, namun akses ke Sekolah Luar Biasa tidak selalu mudah, salah satunya karena persoalan biaya. Di sisi lain, sekolah umum masih kekurangan guru yang memiliki kompetensi untuk mengajar siswa berkebutuhan khusus. Akibatnya, materi yang diterima siswa tidak tersampaikan secara utuh dan kemampuan dasar mereka tertinggal.
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang, Joko Sriyono, menambahkan bahwa banyak siswa dengan kemampuan baca-tulis rendah berada di kelas VII SMP. Mereka bisa tetap naik jenjang karena aturan kurikulum yang tidak lagi memperbolehkan tinggal kelas. Idealnya, menurut Joko, ada pengelompokan khusus atau cluster bagi siswa yang masih lemah baca-tulis agar bisa mendapatkan pendampingan intensif. Namun, keterbatasan jumlah guru, terutama yang berkeahlian khusus, membuat skema ini sulit diterapkan secara optimal.
Situasi ini diharapkan menjadi keprihatinan bersama, bukan hanya bagi pemerintah dan sekolah, tetapi juga orangtua dan masyarakat luas. Semua pihak didorong untuk mengambil langkah konkret demi menyelamatkan masa depan anak-anak, karena kemampuan membaca dan menulis adalah fondasi penting untuk menapaki jenjang pendidikan berikutnya.
























