Lumajang – Seorang siswi sekolah dasar yang menjadi korban banjir lahar dari Gunung Semeru dilaporkan masih mengalami ketakutan untuk kembali ke sekolah. Meski kondisi fisiknya berangsur membaik, proses pemulihan mental kini menjadi perhatian utama pihak guru dan keluarga.
Guru kelasnya mengungkapkan bahwa sang siswi kerap menunjukkan tanda-tanda kecemasan ketika membicarakan peristiwa banjir lahar yang sempat melanda wilayah tempat tinggalnya. Suara hujan deras atau percakapan tentang bencana masih memicu rasa takut yang membuatnya enggan beraktivitas seperti biasa, termasuk kembali ke bangku sekolah.
Menurut pihak sekolah, secara fisik anak tersebut sudah dinyatakan pulih dan tidak mengalami luka serius. Namun secara psikologis, pengalaman menghadapi bencana meninggalkan dampak yang tidak bisa diabaikan. Trauma pascabencana pada anak dapat memengaruhi konsentrasi, kepercayaan diri, hingga motivasi belajar.
Sekolah bersama orang tua kini berupaya memberikan pendampingan secara bertahap. Guru menerapkan pendekatan yang lebih lembut, tidak memaksa, serta memberi ruang bagi siswi tersebut untuk merasa aman sebelum benar-benar kembali mengikuti pembelajaran secara penuh. Jika diperlukan, sekolah juga membuka peluang pendampingan psikologis untuk membantu proses pemulihan.
Para pendidik menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, kehadiran empati jauh lebih penting daripada sekadar mengejar ketertinggalan materi pelajaran. Anak-anak korban bencana membutuhkan rasa aman dan dukungan emosional agar dapat kembali menjalani rutinitas tanpa bayang-bayang ketakutan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dampak bencana tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga meninggalkan luka batin yang membutuhkan perhatian serius. Dengan dukungan keluarga, guru, dan lingkungan sekitar, diharapkan siswi tersebut dapat pulih sepenuhnya dan kembali belajar dengan tenang serta percaya diri.



































